Monday, October 13, 2008

???Tasauf?

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Jadi apa sebenarnya Tasauf. Kenapa Tasauf. Untuk Apa Tasauf. Sampai kemana Tasauf.
Awal-awal Tasauf apa ye? Apa Cerita tasauf ni?

Apa Lambang Tasauf?
Sesosok Tubuh Jasad Kasar Adam adalah Lambangnya. syhhhhh bayang-bayangnya... Memang tubuh kasar itu akan hancur dikandung tanah. Namun kenapa ia dicipta dan dimatikan. Sudah tentu ia mengandungi rahsia dan hikmah. Lihatlah keseluruh alam ini dan lihatlah dari mana alam ini bermula adanya. Tentulah adanya alam ini adalah dari adanya diri adam ini.

Sayangilah ibu-bapa mu.

TASAUF

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

44 thoriqoh di 12 Negara di Dunia
Assalamu alaikum Wr.Wb.

PENGANTAR THORIQOH DAN TASAWUF

Ada baiknya saya sedikit memberikan informasi tentang bagaimana kita menghadapi kerumitan-kerumitan dan kenjlimetan-kenjlimetan di dalam mempelajari sesuatu. Terutama dalam hal ini adalah di dalam memahami hal-hal yang berkaitan dengan tasawuf.

1. Tasawuf (saya yakin anda sudah paham), bukan ilmu teoritis yang bisa dipelajari hanya melalui buku-buku, dialog-dialog, diskusi-diskusi, melalui pembicaraan-pembicaraan. Melainkan harus dipelajari secara praktek. Artinya, sudah waktunya bagi peminat-peminat tasawuf untuk mulai (bagi yang belum), memilih thoriqoh-thoriqoh yang cocok dengan dirinya. Karena tidak ada jalan lain di dalam mendalami ajaran Islam, dan tidak ada jalan lain di dalam pendekatan diri pada Alloh(seperti dicontohkan pendahulu kita) kecuali melalui thoriqoh-thoriqoh yang tersebar di seluruh dunia."Wa ala wistaqomu ala thoriqoti la as qoinahum ma`an ghodaqoh".` Seandainya engkau istiqomah di thoriqoh, niscaya Alloh akan memberimu siraman air kehidupan` -Insya Alloh tentang Thoriqoh-thoriqoh yang bisa diikuti, akan saya berikan informasinya, di 12 negara ada 44 thoriqoh yang di akui kebenaran dan kebesarannya. Hanya sebagai patokannya:

a. Dasarnya Qur`an-Hadits(Prinsip)
b. Biasanya, jalur silsilah ajarannya sampai ke Nabi Muhammad.
c. Adanya suluk atau tahapan-tahapan

Sekali lagi mohon maaf, diskusi-diskusi atau pembicaraan-pembicaraan seperti di milist ini, manfaatnya yang pokok, hanya memberikan semangat pada saudara-saudara untuk meningkatkan pendekatan diri pada Alloh, meningkatkan semangat terutama sekali agar (yang belum) segera belajar melalui thoriqoh-thoriqoh yang ada. Dan yang sudah mengikuti thoriqoh, agar lebih meningkat lagi "mujadah-nya". Sedang untuk masalah peningkatan rohani, sama sekali tidak bisa kita peroleh melalui forum pembicaraan seperti ini. Bahkan banyak bahayanya. Seperti bahaya riya` saat kita menulis, bahaya `ujub`, dan bagi yang sudah belajar melalui thoriqoh, lebih bahaya lagi dalam hal kita merasa sudah mencapai suatu tingkat tertentu, karena kita bisa memahami suatu pengertian atau
kita bisa menyampaikan suatu pemahaman `tingkat tinggi`, padahal itu adalah `kosong` dalam arti kita hanya `tinggi` dalam `pemahaman`, tapi tidak dalam `kenyataan`. Seperti kita mendapatkan peti dari emas, perak, berlian, ratna
mutu manikam, tetapi tidak ada isinya. Sekali lagi saya minta maaf. Tasawuf adalah `laku`, atau `praktek`, atau `amal`. Saya hanya mengingatkan diri saya saja, karena tasawuf tidak terletak pada tingginya pemahaman, tasawuf tidak terletak pada pakaian `shuf`, tasawuf tidak terletak pada gaya yang `eksentrik`, tapi tasawuf terletak pada
praktek `Akhlakul karimah`. atau `Takholaku bi Akhlakillah`. Sekali lagi saya minta maaf.

2. Sebagaimana biasanya, apabila kita di dalam memahami ajaran agama, di situ ada kesulitan, pahamilah dari sudut yang kita tahu dan kita sanggup untuk mengerjakannya. Karena apabila kita memahami sesuatu yang kita tidak sanggup mengerjakannya, maka di situ akan timbul kemalasan dan celakanya kalau sampai keputus-asa-an. Mungkin ada yang ingat, pembicaraan terdahulu di milist lain, masalah `rasa tanpa rasa`, gara-gara yang kita bahas `cukup` rumit, sampai-sampai ada saudara kita yang berucap.kurang lebih sbb:" Wah , lha kalau harus mewaspadai tipuan dunia, setan, dll, bukankah itu terlalu sulit??. Bukankah ujung-ujungnya sesuatu itu diterima Alloh karena rohmatNya, lebih baik ya... seperti sekarang ini saja, ndak usah njlimet-njlimet. yang penting ibadah. Entah riya` entah ndak ikhlas, dll.
Bukannya bersemangat karena pembahasan yang`tinggi`, tapi malahan merasa tidak mampu, merasa tidak bisa melaksanakan, malas, artinya semangatnya tambah kendor. Bukankah ini satu hal yang memprihatinkan??. Inilah salah satu alasan, kenapa tiap satu pemahaman, mesti disesuaikan dengan pemahaman dari pendengarnya. Jadi dalam hal ini, dari satu pembahasan, ada baiknya memang di ambil yang kita bisa paham, diambil pemahaman yang bisa meningkatkan semangat kita untuk meningkatkan rohani kita, yang kita bisa tambah meningkatkan diri kita untuk mendekatkan diri pada Alloh SWT.

3. Dalam masalah memahami buku-buku tasawuf, perlu kita ketahui dulu , siapa pengarangnya? Apakah benar-benar orang tasawuf atau bukan?Kemudian kalau benar-benar yang orang tasawuf,"kira-kira", expert atau tidak??. Supaya tidak kita`gebyah uyah` atau disamaratakan bahwa buku tasawuf semua benar.

Pendapat-pendapat yang rumit semua benar, dll. Biar kita tidak keliru di dalam memahami.
Satu contoh, apabila kita membaca bukunya imam ghozali, pada saat Imam Ghozali masih menjadi guru besar (belum terjun kedalam dunia tasawuf), maka karya-karyanya tidak akan bisa memberikan pemahaman tasawuf terhadap kita. Hal itu berbeda sejak dia sudah mendalami tasawuf, berkholwat di atas menara selama 10 tahun, dan riyadhoh-riyadhoh lain, sehingga cahaya kebenaran dari dirinya tampak, pada saat setelah itu-lah karya-karyanya menjadi berbobot bagi dunia Islam khususnya tasawuf.

Contoh lain seperti Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah banyak menulis buku-buku yang menghujat tasawuf, menyerang tasawuf, (terutama buku-buku Ibnu Taimiyah yang masuk di Indonesia). Tetapi ini akan berbeda setelah menjelang akhir hidupnya, dipenjara, dia justru mendalami tasawuf dan karya-karya sesudah itu, adalah pembelaannya terhadap tasawuf. Karena dia sudah merasakan kebenaran tasawuf.

4. Buku-buku tentang tasawuf-pun, (di sini yang saya maksud yang dikarang oleh ulama tasawuf yang `bener-bener` atau yang memang expert di bidang tasawuf, inipun bermacam-macam. Ada buku-buku yang ringan, ada buku-buku yang pemahamannya rumit dan ada buku-buku yang sangat rumit. Buku-buku yang sangat rumit ini menjadi sia-sia apabila rohani pembaca memang belum `mencapai`, atau bahkan berbahaya bagi yang belum `mencapai`. (seperti
`Daqo`ikul Akbar`, `Futuhatul Makiyah`, oleh Ibnu Arobi, dll ).

Oleh karena hal-hal di atas, tidak ada alasan lain kecuali kita harus berguru melalui thoriqoh-thoriqoh yang ada. Agar kita dapat menarik manfaat dari ajaran tasawuf atau ajaran Islam itu sendiri, melalui "Ulama (bener-bener) warosatul Anbiya`" Sekali lagi saya mohon maaf, semoga hal ini bermanfaat.
Seperti sudah saya janjikan di milist ini, biidzinillah, akan saya informasikan tentang thoriqoh-thoriqoh di dunia.
Saya nukilkan dari "Ensiklopedi Islam", Penerbit PT.Ikhtiar Van Hoven Jakarta, tahun 1994. Buku ini terdiri dari 5 (lima) jilid besar. Jild I dengan tebal 336 halaman, jilid II dengan tebal 346 halaman. Jilid III dengan tebal 356 halaman jilid IV dengan tebal 336 halaman. Jilid V dengan tebal 334 halaman. Disusun oleh 80 orang, sebagian besar terdiri dari Dosen-Dosen perguruan tinggi. Kitab yang dipakai sebagai sumber dalam penyusunan ada 1049 kitab ditambah pemasukan informasi dari Duta besar-Duta besar Negara Islam di Jakarta.


Dalam Jilid V- Bab Thoriqot - huruf (T), halaman 67, terdapat tabel nama-nama Thoriqot yang mempunyai pengaruh besar di dunia yaitu sejumlah 44 thoriqot tersebar di 3 benua yaitu, benua Asia, Afrika, Eropa. Benua yang kosong dari Pusat pengembangan Thoriqot ada dua yaitu, benua Amerika dan benua Australia.

Singkatan T untuk `Thoriqot`, P untuk `pendiri`, dan Di untuk `berpusat di`.

1. T: Ad-Hamiyyah. P:Ibrohim bin Adham. Di Damaskus Syuriah.
2. T: Ahmadiyyah. P:Mirza Ghulam Ahmad. Di Qodiyan India.
3. T: `Alawiyyah. P:Abu Abbas Ahmad. Di Musta`nim Aljazair.
4. T: `Alwaniyyah. P: Syaikh Alwan. Di Jeddah Saudi Arabia.
5. T: `Ammariyyah. P: Ammar Busina. Di Konstantine Aljazair.
6. T: Asysyaaqiyyah.P: Hasanuddin. Di Istambul Turki.
7. T: Asyroofiah. P:Asrof Rumi. Di Khin Iznik Turki.
8. T: Baahaiyyah. P:Abdul Ghoni. Di Adrianopel Turki.
9. T: Bahromiyyah. P: Hajji Bahromi. Di Ankara Turki.
10. T: Bakriyyah. P: Abu Bakar Wafa`i. Di Aleppo Syuriah.
11. T: Biktasyi. P: Biktasyi fili. Di Kirshir Turki.
12. T: Bistaamiyyah.P: Abu Yazid Al Bistami. Di Jabal Bistam Iran.
13. T: Ghulsyaaniyyah. P: Ibrohim Ghulsyani. Di Kairo Mesir.
14. T: Haddaadiyyah. P: Sayyid Abdulloh bin `alawy bin Muhammad AlHaddad. Di Hijaz, Arab saudi.
15. T: Idriisiyyah. P: Sayyid Ahmad bin Idris.Di `Ashir, Arab saudi.
16. T: Ightibaasiyyah. P: Syamsuddin. Di Maghnasiyah Yunani.
17. T: Jalwaatiyyah. P: Fier Uftady. Di Bursa Turki.
18. T: Jamaaliyyah. P: Jamaluddin. Di Istambul Turki.
19. T: Kubroowiyyah. P: Najmuddin. Di Khurosan Iran.
20. T: Qodiriyyah.P: Abdul Qodir Al Jailani. Di Baghdad Irak.
21. T: Kholwatiyyah. P: Umar Al Kholwaty. Di Kasyiri Turki.
22. T: Maulawiyyah. P: Jalaluddin Rumi. Di Kunya Anatholia.
23. T: Muroodiyyah. P: Murod Syami. Istambul Turki.
24. T: Naqsyabandiyyah. P: Muhammad bin muhammad al Uwaisi al Bukhori Naqsyabandi. Di Qosri Arifan Turki.
25. T: Niyaziyyah. P: Muhammad Niyaz. Di Limnuz Yunani.
26. T: Ni`matulloh. P: Syah Wali Ni`matulloh. Di Kirman Iran.
27. T: Nur Bahsyiyyah. P: Muhammad Nurbah. Di Khurosan Iran.
28. T: Nuruddiiniyyah. P: Nuruddin. Di Istambul Turki.
29. T: Rifaa`iyyah. P: Sayyid Ahmad Ar Rifa`i. Di Baghdad Irak.
30. T: Sa`diyyah. P: Sa`aduddin Jibawi. Di Damaskus Syuria.
31. T: Safaawiyyah. P: Saifuddin. Di Ardabil Iran.
32. T: Sanusiyyah. P: Sidi Muhammad bin `Ali As Sanusi. Di Tripoli Libya.
33. T: Saqoothiyyah. P: Sirri Saqothi. Di Baghdad Irak.
34. T: Shiddiqiyyah. P: Kyai Muchtar Mu`thi. Di Jombang Jawa Timur Indonesia.
35. T: Sinan Ummiyyah. P: Alim Sinan Ummi. Di Al Wali Turki.
36. T: Suhrowardiyyah. P: Abu Najib Suhrowardi dan Syihabuddin Abu Hafsin Umar bin Abdulloh Suhrowardi. Di Baghdad Irak.

37. T: Sunbuliyyah. P: Sunbul Yusuf Bulawi. Di Istambul Turki.
38. T: Samsiyyah. P: Syamsuddin. Di Madinah Arab Saudi.
39. T: Syattaariyyah. P: Abdulloh Syattar. Di India.
40. T: Syaadziliyyah. P: Abu Hasan Ali Assyadzili. Di Mekkah Arab Saudi.
41. T: Tijaaniyyah. P: Abul Hasan Ahmad bin Muhammad Tijani. Di Fez, Maroko.
42. T: Um Sunaniyyah. P: Syaikh Um Sunan. Di Istambul Turki.
43. T: Wahaabiyyah. P: Muhammad bin Abdul Wahab. Di Nejed Arab Saudi.
44. T: Zainiyyah. P: Zainuddin. Di Kufah, Irak.

SEDIKIT TENTANG SEJARAH TASAWUF

Pada prinsipnya, seluruh ajaran thoriqoh-thoriqoh yang sudah disebutkan, karena ajaran Islam, maka pasti sumber ajarannya adalah Qur`an - Hadits, yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Sehingga dalam silsilah thoriqot, sumber dari Nabi Muhammad, turun ke sahabat-sahabat (biasanya Abu Bakar atau Ali bon Abi tholib), kemudian turun ke tabi`in, kemudian turun ke tabi`it tabi`in.

Informasi secara sederhana, Nabi Muhammad menyampaikan ajaran Islam pada seluruh manusia. Diantara manusia-manusia itu ada yang `pintar atau pandai` dalam arti pelajaran bagi golongan ini, perlu ditambahi. Sehingga muncullah pelajaran khusus bagi orang yang memang mencukupi `wadahnya` saat itu. Artinya apabila pelajaran ke=Islaman yang diberikan pada orang-orang tertentu itu diberikan secara umum, maka akan menyebabkan kebingungan, dll.

Analog, misalkan pelajaran berhitung, plus, minus, diajarkan di SD, jadi mereka meyakini kebenaran (SD) bahwa 1 + 1 pasti sama dengan 2(sistem desimal). Tapi bagi SMP(mungkin), akan diajarkan yang lainnya, bahwa 1 + 1 tidak sama dengan 2 melainkan sama dengan 10 (sistem biner). Dan bagi SMA akan diajarkan masalah integral, turunan, dll. Kalau misalnya masalah integral diajarkan pada anak SD, maka akan menimbulkan kebingungan-kebingungan.

Demikian pula untuk masalah agama. Dari golongan yang `pandai` tadi muncul golongan lagi yang lebih `pandai`, dan golongan ini perlu pula ilmunya ditingkatkan, muncul pelajaran khusus lagi. Dan seterusnya dan seterusnya sampai tersaring 4 sahabat (Abu bakar, Umar, Usman ,Ali). Mereka-lah (4 sahabat) yang menerima sebagian besar ilmu dari Nabi Muhammad.


Jadi apabila di dalam belajar tasawuf, melalui thoriqoh-thoriqoh tsb, ada cara-cara yang selama ini belum kita ketahui, bukan berarti mereka melakukan bid`ah atau mengada-ada soal ajaran, melainkan mereka menyampaikan apa-apa yang mereka peroleh dari gurunya-dari gurunya sampai dari Nabi Muhammad SAW. Hanya saja kita yang baru tahu, oooo...ternyata ada pelajaran yang seperti itu.


Kemudian, dari 4 sahabat tadi, pintu ilmu melalui Ali(karena beliau terakhir masanya setelah 3 sahabat yang lain), turun-lah pelajaran atau ilmu Islam pada 2 putranya yaitu Hasan dan Husain, dari Hasan dan Husain ini, mungkin mereka memiliki murid banyak, ada yang menonjol,berkembang di satu daerah, masing-masing murid mungkin memiliki murid lain yang juga banyak dan seterusnya, dan seterusnya.

Muncullah nama-nama thoriqoh yang bermacam-macam. Ada yang karena terkenal yang mengembangkan bernama Syech Abdul Qodir Jailani, maka dipakai oleh murid-muridnya setelah beliau, thoriqoh Qodiriyyah (diambilkan dari nama Abdul Qodir). Atau ada murid Yazid Al-Bustami dari daerah Kholwati, menjadikan timbul thoriqoh Kholwatiyyah, dst,dst.
44 Thoriqoh di 12 Negara di Dunia [4]

CONTOH SILSILAH AJARAN
Berikut ini saya contohkan satu silsilah ajaran yang tersebut dalam kitab " Tanwirul Qulub Fi Mu`amalati `Allamil Ghuyub" yang disusun oleh seorang Ulama Ahli Ma`rifat Billah, yang telah terkenal diseluruh dunia dan pula menjadi Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyyah . Beliau adalah Syaikh Muhammad Amin bangsa Kurdi, Negri Irbil yang mermadzhab Syafi`i.

Kitab ini disusun pada tahun 1332 H, jadi sudah lebih dari 84 tahun yang lalu.
Berikut ini silsilahnya.

1. Muhammad Rosululloh.
2. Abu Bakar Shiddiq.
3. Salman Al Farisi.
4. Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Shiddiq.
5. Imam Ja`far Shodiq
6. Abu Yazid Busthami
7. Abil Hasan Ali bin Abi Ja`far Al khorqon
8. Abi `alal Fadhol
9. Abi Ya`qub
10. Abdul Kholiq
11. Arif ar Riwikari
12. Mahmud Al Anjir
13.Ali Ar- Romaitini
14. Muhammad Baabas
15. Sayyid Amir Kullaal
16. Sayyid Bahauddin Muhammad
17. Muhammad `Alauddin
18. Ya`qub Al-Jarkhi
19. Nashiruddin `Ubaidillah
20. Muhammad Zaid
21. Darwis Muhammad
22. Muhammad Khowaajiki.
23. Mu`ayyaduddin
24. Ahmad Al Faruqi.
25. Muhammad ma`sum
26. Muhammad Syaifuddin
27. Syarif Nur Muhammad
28. Syamsuddin Habibulloh
29. Abdulloh ad Dahlawy.
30. Kholid Al Utsmani
31. Syaikh Utsman
32. Syaikh Umar
33. Syaikh Muhammad Amin Al Kurdi Al Irbili (pengarang kitab Tanwirul Qulub)

Selanjutnya Syaikh Muhammad Amin Al Kurdi di dalam kitabnya hal 539-540, menyebutkan sbb:
1. Silsilah di atas mulai Sayyidinan Abu Bakar Ash Shiddiq sampai Syaikh Abi Yazid AL Busthami dinamakan " Shiddiqiyyah". (mulai no 1-6).
2. Dari Abu Yazid sampai Abdul Kholiq dinamakan " Thoifuuriyyah" (No 6-10).
3. Dari Abdul Kholiq sampai Muhammad Baha`uddin dinamakan "Khowaajikaaniyyah" (No 10-16).
4. Dari Muhammad Baha`uddin sampai Nashiruddin Ubaidillah dinamakan "Naqsyabandiyyah". (No 16-19)
5. Dari Ubaidillah sampai Ahmad Al Faruqi dinamakan "Ahrooriyyah". (No 19-24).
6. Dari Ahmad Al Faruqi sampai Sayyid Kholid dinamakan "Mujaddadiyyah" (No 24-30)
7. Dari Syaikh Kholid sampai Muhammad Amin dinamakan " Khoolidiyyah" (No 30-33)

Sehingga sebenarnya jumlah thoriqoh-thoriqoh yang ada itu sangatlah banyak. Tidak hanya 44 thoriqoh saja, melainkan sangat banyak. Tetapi dari thoriqoh yang banyak itu, ciri-ciri ajarannya pasti tidak bertentangan dengan Qur`an Hadits. Dalam arti adalah menjalankan ajaran Islam yang sesuai Qur`an Hadits. Kemudian biasanya silsilah ajarannya juga ada sampai Nabi Muhammad dan adanya suluk atau tahapan-tahapan.
Apabila ada "thoriqoh" yang bertentangan dengan Qur`an Hadits, maka wajib bagi kita untuk menolaknya atau kita tidak boleh menjalaninya. (Meskipun ada silsilah ajarannya sampai ke N.Muhammad). Sebaliknya, meskipun silsilah ajarannya kurang jelas, tetapi ajaran thoriqoh itu sendiri tidak bertentangan dengan Qur`an Hadits, maka thoriqoh itu boleh dijalani.


AJARAN DI DALAM THORIQOH

Ajaran di dalam Thoriqoh, (biasanya) ada 2 garis besar ajarannya yaitu `Hablum minalloh wa hablumminannas". Hubungan dengan Alloh, biasanya dilewatkan istilah "Bai`at" sedang hubungan dengan manusia biasanya dilewatkan istilah `ijazah`. Ilmu-ilmu yang melalui "Bai`at" benar-benar murni untuk peningkatan kedekatan kita pada Alloh (kadang di sebut pula sebagai ilmu yang `pokok` atau yang `utama`) . Biasanya, pokok-pokok yang diajarkan di sini (riyadhohnya) meliputi puasa, sholat dan dzikir sebagaimana jalan menuju taqwa dalam al Qur`an adalah ketiga hal di atas.Sedang ilmu-ilmu melalui "ijazah" biasanya untuk membantu umat (kadang disebut ilmu `sampingan` atau ilmu `cabang rantingnya`).

Dari Ilmu cabang ranting inilah yang kadang bisa dipakai sarana menimbulkan keajaiban, pengobatan, `kesaktian`, dll. (Keajaiban yang dimohonkan pada Alloh)

Dari ilmu yang melalui "ijazah" ini, ada pula yang mengambil sebagian lagi, dan sebagian lagi, sampai tersebar ilmu-ilmu seperti "kanuragan", "kedigjayaan", tenaga dalam, silat , dll.

Sehingga mungkin kita menemui ada pelajaran silat yang ada do`anya dengan mewajibkan pada kita wasilah pada salah satu dari para Aulia`-aulia atau wali-wali Alloh. Itu merupakan cabang ranting dari cabang ranting dari cabang ranting ilmu thoriqoh yang melalui "ijazah". ( Dalam hal istilah mungkin bisa saja ada yang mengistilahkan ilmu "hablumminannas" ini dengan istilah "bai`at"- pula )

Sehingga perlulah saya mengingatkan bagi yang belum masuk thoriqoh atau bagi yang sudah, yaitu :

1. Apakah "thoriqoh yang kita ikuti tidak bertentangan dengan Qur`an Hadits??".

2. Kita tata ulang niat kita bahwa tujuan utama adalah `taqorub ilalloh` atau pendekatan diri kita pada Alloh. Dan jangan tertipu dengan keinginan-keinginan untuk mengejar `ilmu sampingannya`.

3. Sadarilah bahwa `ilmu sampingan` itu untuk menolong umat dan jangan terjebak waktu kita habis untuk itu, sehingga proses pendekatan diri kita pada Alloh terhenti.

4. Sadarilah bahwa segala macam bentuk keajaiban, kesaktian, dll. itu hanyalah "mainan" anak kecil yang makhluk Tuhan yang lainpun bisa ( bisa `terbang`, burung juga bisa, bisa `berjalan di atas air` laba-laba air juga bisa,dll). Jangan terjebak di masalah "mainan". Ingatlah bahwa Alloh itu-lah tujuan kita.

Kami cukupkan bab Thoriqoh ini sampai di sini.

"Wahai Pencari Kebenaran ...Belum tibakah waktu bagi kalian untuk memulai!!"



MASALAH KEMURSYID-AN

Kalau yang anda tanyakan masalah kemursyidan, saya tidak tahu. Karena masalah kemursyidan itu:
:
1. Bukan jabatan suatu organisasi,
2. Bukan hasil kesepakatan murid-murid,
3. Bukan hasil lobby-lobby,
4. Bukan karena keahlian keajaiban yang bisa ditimbulkan,
5. Bukan karena imannya
6. Bukan karena pemahaman yang tinggi.
7. Dan Bukan karena ma`rifatullohnya.
Tetapi masalah kemursyidan adalah jabatan yang diberikan Alloh semata-mata
karena rohmatNya.

Sehingga informasi masalah kemursyid-an ini secara jelas tidak ada yang
tahu. Sama artinya hanya para wali saja yang tahu tentang kewalian. Hanya
para mursyid saja yang tahu tentang kemursyidan. Misalnya begini, sekarang ini bisa saja saya mengaku bahwa saya ini seorang mursyid suatu thoriqoh. Apakah anda percaya???? Kalau anda kurang percaya atau tidak percaya, akan saya buktikan dengan
karomat-karomat saya. Dan misal anda melihat karomat saya, Apakah anda
percaya kalau saya ini seorang mursyid????. (Keajaiban bukan ciri seorang
mursyid, karena orang yang belum mendapat hak kemursyidan dari Alloh-pun
bisa saja menampilkan keajaiban. Bahkan orang yang bukan muslim-pun bisa
menampilkan keajaiban. Baik dari Hindu, Budha, Kristen,dll. Kalau satu
ketika David Coperfield, ahli ilusi itu, mengaku bahwa dia seorang mursyid, apakah anda percaya????" )

"Masalah kemursyidan bukan masalah sepele. "

Dan sekarang ini, indikasi yang ada, banyak orang yang mengaku-aku dirinya mursyid.

Secara sederhana, dari pengalaman, ada beberapa acuan kita dibolehkan
mengikuti satu ajaran (dalam arti lebih baik kita tidak menjatuhkan vonis bahwa orang yang mengajari kita adalah "mursyid"):

1. Tidak bertentangan dengan Qur-an dan Hadits
2. Akhlak yang bersama dengan guru kita itu adalah `akhlakul karimah`
3. Titik sentral yang diajarkan adalah `taqorub ilalloh`, dan apakah itu
membawa perubahan yang lebih baik bagi kita atau tidak.??
4. Jangan terlena dengan keajaiban-keajaiban yang ditampakkan.
5. Lihat lah ciri orang yang benar pada contoh kita yaitu Nabi Muhammad
SAW.



Nah, Thoriqoh-thoriqoh yang sudah pernah disebutkan (dan masih banyak
thoriqoh lain), bisa saja kemursyidannya terputus. Artinya begini. Di dalam thoriqoh, ada jabatan-jabatan ruhaniyah yang bertingkat-tingkat. Saya ambil contoh di salah satu thoriqoh, ada jabatan

"Kholifah", kemudian di atas jabatan "kholifah "("kholifah" ini juga bertingkat-tingkat) ini ada jabatan "ustadz"("ustadz"ini juga bertingkat-tingkat) dan di atas "ustadz" ini ada jabatan "mursyid" dan di atas mursyid ini ada "Syech". Nah misal saja di satu thoriqoh yang ada mursyidnya. Setelah si mursyid wafat, dan dibawah si mursyid ini, orang-orang yang ada (baik yang
dijabatan kholifah, maupun di jabatan ustadz) belum mendapatkan ijin dari Alloh untuk menjadi mursyid, maka sejak mursyid mereka wafat, terputuslah kemursyidan di Thoriqoh itu. Di sini kadang, namanya saja manusia, bisa aja si "kholifah"atau si "ustadz" terbujuk untuk menyebut dirinya sebagai mursyid. Padahal ijin dari Alloh belum turun. Atau bisa saja dari
murid-murid ada kesepakatan untuk mengangkat pengganti si mursyid. Atau
bisa saja dari pihak lain menetapkan bahwa si A itu dijadikan mursyid, dll.
Hal itu tidak ada artinya karena adanya mursyid itu karena semata-mata
jabatan ruhaniyah yang langsung diberikan oleh Alloh.

Jangankan masalah mursyid, masalah pengangkatan kholifah saja juga
langsung dari Alloh.

Moga-moga yang mengaku-aku dirinya "mursyid", cepat-cepat sadar dan tidak marah dengan tulisan saya ini. Kebenaran hanya milik Alloh. "Ma indakum yanfadu wa ma indallohi baq"

Jadi sekali lagi kalau masalah kemursyidan , saya tidak tahu.

maaf.


LAGI MASALAH KEMURSYID-AN

Ass.Wr.Wb.

Tanya:
Saya ingin menanyakan, apa yang dimaksud dengan "berhak ngajar di dua thoriqoh "

huttaqi njawab:
Maksudnya adalah bahwa seseorang itu memiliki "ijin" untuk memberikan pelajaran pada orang lain, yang ajaran itu bersumber dari dua thoriqoh. Ada orang yang diberi "pelajaran khusus", maka orang tersebut "berhak"
untuk menggunakan ilmunya itu. Tapi orang tersebut tidak berhak untuk menyampaikan keorang lain (ilmu untuk dirinya sendiri). Ada orang yang sudah mendapatkan "pelajaran khusus" dan sudah memiliki "ijin" untuk
menyampaikannya ke orang lain.

Nah orang seperti ini diperbolehkan untuk memberikan "pelajaran khusus". Kadang sifatnya masih terbatas untuk "pelajaran-pelajaran tertentu saja". Dan ada yang sudah di angkat sebagai wakil dari mursyid ( kadang
diistilahkan `kholifah` atau `ustadz`), boleh memberikan hampir semua pelajaran yang sudah dipunyai, dengan keterbatasan-keterbatasan tertentu. Bisa terbatas dalam hal jumlah muridnya dan terbatas dalam hal pelajaran
tertinggi yang boleh diajarkan. Dan bagi mursyid demikian juga, mursyid biasanya memiliki keterbatasan di dalam memberikan pelajaran, biasanya dibatasi dalam jumlah murid (wakil), dan dibatasi dalam hal ilmu. Ilmu yang
tidak boleh disampaikan, tentu tidak akan disampaikan oleh mursyid pada muridnya. Demikian juga para Nabi dan rosul, ada ilmu yang disampaikan secara umum, dan ada ilmu yang boleh disampaikan secara khusus dan ada ilmu
yang tidak boleh disampaikan (hal kenabian).

Tanya:
siapakah yang memberikan hak itu?

huttaqi njawab:
Yang memberikan hak tersebut adalah Alloh dan NabiNya dan RosulNya dan UlamaNya dan MujadidNya dan SyechNya dan SyechNya dan SyechNya dan MursyidNya dan MursyidNya dan MursyidNya dan seterusnya.
Satu saja dari silsilah ajaran suatu thoriqoh itu tidak memberikan hak, atau tidak mengijinkan, maka seseorang tersebut, jangankan sebagai mursyid, sebagai wakilnya (kholifah - ustadz) saja tidak akan bisa.

Tanya:
Logika saya kalau silsilah kemursyidan itu berawal dari Rasulullah SAW dan turun temurunnya atas dasar wahyu Tuhan, maka seharusnya sampai sekarang hanya ada satu saja thoriqoh yang benar atas dasar pelimpahan kemursyidan tersebut.

huttaqi njawab:
Bukankah Nabi memiliki 4 sahabat??
Abu Bakar, Umar, Usman, Ali???
Kok tidak satu sahabat saja???

Tanya:
(tradisinya seorang mursyid bisa punya banyak murid, tapi hanya mengangkat melimpahkan kemursyidan kepada satu orang atas dasar wahyu kepada orang yang telah dipersiapkan Nya menjelang akhir tugasnya di dunia )

huttaqi njawab:
kenyataannya, seorang mursyid bisa punya banyak murid dan memiliki ijin mengangkat wakilnya (kholifah maupun ustadz) lebih dari satu sesuai yang iijinkan oleh Alloh.
Dan seorang Syech bisa punya banyak murid dan bisa mengangkat mursyid lebih dari satu sesuai ijin dari Alloh.
( urutan tingkatan dalam thoriqoh biasanya: murid - kholifah - ustadz - mursyid - Syech )

Moga-moga bagi yang mau melangkah tidak ada keragu-raguan lagi.

TAKUT TERSESAT ? SIAPA TAKUT?

Seperti kisah Dewa Ruci di dalam pewayangan.

Seperti kisah itulah,
Ketika sang Werkudara sami`na wa atho`na, taat kepada gurunya,
Meski gurunya resi Durna yang penuh tipu daya..

Bima berkehendak akan kebenaran sejati,
sang Resi berkehendak menjerumuskan Bima..

Ketika perintah mencari Ma`ul Hayat,
air tirta kamandanu digulirkan,
Kemanapun, Bima akan berangkat untuk mencari..

Sang Resi menjerumuskannya dengan mengatakan,
"Di sana..di gunung itu", sambil dalam hati ia bergumam, rasakanlah Bima, tak ada seorang manusiapun yang pernah pulang dengan selamat dari Gunung itu..
Dan mungkin akan terjadi begitu..
Kalau bukan Bima yang berangkat dengan tujuan suci..

Sugriwa Sugrawi sang Raksasa penjaga gunung di kalahkan oleh Bima,

Bima kembali dan melaporkan pada sang guru,
"Di sana tak ada air tirta kamandanu guru"

Kemudian Gurunya berkata,
"Ke sana muridku pergilah ke samudra luas di sana, air kehidupan ada di sana"
sambil dalam hati bergumam, rasakan kamu, tak ada yang pernah pulang dengan selamat dari lautan itu"

Bima berangkat dan menuju ke samudra itu,
seluruh saudara-saudaranya berusaha mencegahnya sebab tahu bahwa Bima hanya dijerumuskan saja oleh sang guru,
tapi Bima tidak bergeming,
tetap pada keinginan sucinya,
mencari air tirtakamandanu..

Benarlah duggan sang guru ..
Bahaya justru yang di dapat si Bima,
seekor ular yang sangat besar menghadangnya dan hendak membunuhnya,
Tapi yang dihadapi adalah Bima yang telah dikuatkan oleh tujuan suci.

Sang naga berhasil dikalahkan,

Pada saat itulah kebenaran sejati menampakkan diri sebab kuatnya sang niat,

Sosok tubuh kecil persis seperti Bima keluar dari dalam lautan,

"Siapa kamu ?" tanya Bima

"Aku adalah Dewa Ruci" (dewa itu Raja, Ruci itu Ruca atau jantung jadi "Rajanya Jantung" atau "Rajanya Qolbun")

Dan kemudian niat suci telah membimbing Bima untuk menuju kebenaran yang sejati..

Melalui proses ruhaniyyah,
sang Bima pun mendapatkan air kehidupan itu...

Ass. Wr.Wb.
Saya akan melanjutkan kisah di atas dengan kejadian yang ada..
Cerita ini `true story`, kisah nyata, bener-bener terjadi......

Temen saya inisialnya K, di Surabaya, satu ketika belajar tasawuf melalui
seorang guru. Karena temen saya itu sangat-sangatlah dekat dengan saya,
sudah saya anggap saudara saya sendiri, maka kemana dia ngajak saya, saya
nurut, ikut saja.

Singkat cerita saya juga di ajak dia ke guru ngajinya itu.
Tidak mengurangi rasa hormat dan dengan kehati-hatian, sayapun `sungkem`
pada beliau. Omong-omongan cukup lama, terasa ada ketidak beresan. Feeling
saja.
Malam harinya, mimpi-mimpi yang saya alami sangatlah menganggu.

Intinya, dimimpi itu, bahwa memang sebenarnya ada ketidak beresan di dalam
orang itu (guru ngaji temen saya tsb). Entah di masalah karakter pribadi
yang ndak bener, entah di masalah ajaran yang ndak benar? masih jadi tanda
tanya.

Saya sholat istikhoroh, beberapa lama............dan fana....(eh ternyata
tertidur.....he...he....)
Dan.......................................................................

kok ya ndak bisa saya itu nangkap petunjuk ilahi (meskipun lewat mimpi saja)
maklumlah masih belajaran sholat
istikhoroh..........he.........he..............
hati masih buram, kotor. Pikiran masih pada `dunia` he...he..............

Nah, karena sulitnya dapat petunjuk, maka `jalur potong kompas` saya pake`
Saya nanya` ke wakilnya mursyid (kholifah)," Pak maaf, saya mau cerita
isyaroh yang saya terima lewat mimpi", begitu saya bertanya. Kholifah
menjawab,"ooo.... mimpi","iya pak"kata saya lagi.
Eh.....barulah saya sadar kalau saya keliru bertanya.
wong diri ini masih kotor, hati buram, pikiran ke dunia,eh...kok
berani-beraninya saya bertanya dengan memakai istilah `isyaroh`.(bukankah
isyaroh itu petunjuk dan petunjuk biasanya dapat ditangkap oleh orang-orang
yang berhati bersih??)

Kemudian saya ceritakan mimpi saya dan kejadian saya diajak ke guru ngajinya
temen saya itu. Bapak Kholifah diam dan kemudian bercerita panjang lebar
tanpa sedikitpun menyentuh apa yang saya tanyakan.
Alhamdulillah,
tiba-tiba pemahaman yang lain tentang guru ngajinya temen saya itu masuk ke
diri saya. Dan saya berani membuat satu kesimpulan bahwa....guru ngajinya
temen saya itu termasuk orang yang nggak bener.

Saat bertemu dengan temen saya di lain kesempatan, saya kelepasan omongan
pada dia. "eh `K` hati-hati lho, guru ngajimu itu ndak bener. Karena engkau
itu saudaraku, kuceritakan ini."
Wah bisa dibayangkan, saya diamuk oleh temen saya itu. Ya jelas saja wong
guru ngajinya saya bilang ndak bener.
Tapi temen saya itu yang tahu bahwa saya hanya bermaksud memberitahu dia,
diakhir omongannya dia berkata,

"Wis gini saja cak Huttaqi, aku yakin niatku
adalah mendekat pada jalan Alloh, semata-mata ingin taqorub pada Alloh.
Kalau apa yang engkau katakan itu benar, pasti Alloh akan menunjuki-ku jalan
yang benar. Percayalah pada Alloh"



Karena sudah keluar omongan seperti itu, maka kuyakinkan diriku, bahwa Alloh
pasti menunjukki hamba-hambanya yang benar-benar berniat untuk mendekat
dengan jalanNya yang benar.

Waktupun berlalu hampir satu tahun dari oomongan tadi, dan satu ketika
bertemulah aku dengan temenku tersebut.
Dia berkata agak tergopoh-gopoh,"Cak Huttaqi, tolong jangan kamu
tertawa............atau menertawakan aku
ya..........."."oh....ya......"kataku,dia kemudian melanjutkan,"Guruku itu
ternyata memang nggak benar", dasar huttaqi yang kurang ajar, huttaqi
ketawa,"ha.........ha.......ha.......hi.......hi.....hi......apa kubilang,
kamu ndak percaya"." Huss!!! diam!! jangan ketawakan aku", teriak dia sambil
marah, kemudian dia meneruskan ceritanya.
"Dulu tak pikir guruku itu benar karena yang di ajarkan padaku ya seolah
olah benar. Sampailah kasus pada diriku sendiri, muridnya kan ada yang sudah
pacaran lama, terus dibilang oleh guruku, bahwa yang cewek itu sebenarnya
jodohku, maka ya perlu di ikhtiar`i ,katanya dan kupercaya itu, akhirnya aku
gerilya untuk merebut cewek itu dari tangan pacarnya, sesuai petunjuk
guruku. Eh setelah dia jadi cewekku, lha kok aku mau disingkirkan oleh
guruku sendiri. Telusur punya telusur, selidik punya selidik, guruku itu
memang hobinya kawin dan cewekku itu memang sudah diinginkan oleh guruku
mulai dulu". "Subhanalloh" teriakku dalam hati."Untungnya aku tidak taklid
buta. Untungnya pikiranku masih jalan.", katanya dia lagi.

Singkat cerita, beberapa lama kemudian, ketemu temenku itu lagi dan dia
cerita kalau dia ikut ngaji lagi di lain tempat. Seperti awal cerita, saya
diajak lagi ke gurunya dan kulihat tampak tanda-tanda ilahi di dirinya.
Bersyukurlah engkau wahai saudaraku. Inilah pertolongan Alloh pada
hamba-hambanya yang menuju padaNya.

Apa yang kusampaikan diatas adalah Haq terjadi tahun 1992 di kota `S`.
Tak ada maksud lain dalam cerita ini kecuali seperti yang di sampaikan oleh
Abah Hilmy, Pak de -saya- R. Sunarman. Melainkan bahwa Alloh akan
menunjukkan jalanNya pada hambanya yang bersungguh-sungguh mendekat padaNya.

teriring salam buat temenku "K" yang sekarang ada di negri lain. Maaf
kisahmu saya pinjam untuk kuceritakan di milist ini. Kalau engkau datang
nanti "royalti"cerita ini pasti kuberikan
padamu.......he.......he...........

salam......
penutur cerita huttaqi.

Wednesday, February 27, 2008

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Ukiran

apa itu ukiran ? apa yang menyokong ukiran ? apa yang menggerakkan sehingga ukiran terhasil?

Ukiran itu satu senian yang terhasil dari dalam diri
sokongan peralatan yang cukup..pisaunya cukup dan tajam..posisi mengukir..peralatan yang tersusun ..bukan kerja ukira yang dikejar-kejar..mengukir sehingga ukiran yang mendorong kita mengukir bukan kita mendorong untuk mengukir..tidak memberikan keizinan orang lain menggunakan peralatan mengukir kita.

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

iNGAT SATU MASA NANTI INGAT AKAN MENGGERAKKAN MU ..BUKAN KAMU YANG MENGGERAK UNTUK INGAT

Sunday, December 10, 2006

Into The Light

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.


The most perfect is like a very deep sea,
a sea of unconceivable depths
One ness is like on empty a piece of white paper
that is un assigned, there is no manifestation
of the essence of beeing.
A very deep sea, a sea unconceivable depthswhich even
can not be estimated by the prophet and the saint.
Believes in the Seven Grades and The Twenty Attributes
on the seven grades, that's our way to God
like a measuring rope.

Susur galur badan sekujur
napak tilas ke asal muasal
menepati dalil Qur'an Suci

"Innalillahi wa inna illaihi rojiun"

"Sesungguhnya kita berasal dari ALLAH SWT
dan akan kembali kepada ALLAH SWT"

ditegaskan :

Bila merasa berasal dari ALLAH SWT, maka
WAJIB kembali kepada ALLAH SWT.



INTO THE LIGHT

Jangan engkau berjalan dibelakangku
karena aku bukan Imam-mu

Jangan engkau berjalan didepanku
karena aku bukan Pengikut-mu

posted by Kong De Alwinz at 8:26 PM


http://www.jemari-sufi.blogspot.com/

gurindam 12

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.



Pucuk Dicinta Ulam Tiba
berapa lama sudah hamba mencari-cari
tapi tiada pernah bersua selengkap ini
sejuk malam ini tiada sadar hamba dibawa
pada paduan seni dan eloknya isi
yang takkan hamba lupakannya
gurindam duabelas, itulah namanya
gembira hati jumpakannya.

INILAH GURINDAM DUABELAS NAMANYA

Ditulis Ulang Oleh: Firman Pribadi
20 September 2003

Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatnya Nabi yang
akhirul jaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya.
Amma ba’du daripada itu maka tatkala sampailah Hijratun Nabi 1263 Sanah
kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa mana (…..) telah
ta’ali kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang satu gurindam cara Melayu
yaitu yang boleh juga jadi diambil faedah sedikit-sedikit daripada
perkataannya itu pada orang yang ada menaruh akal maka adalah banyaknya
gurindam itu hanya duabelas pasal di dalamnya.

Syahdan

Adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula bermula
arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang
pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu
pasangnya bersalahan dengan gurindam.

Adapun arti gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir
pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya sahaja
jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu
jadi seperti jawab.

Bermula inilah rupanya syair.

Dengarkan tuan suatu rencana
Mengarang di dalam gundah gulana
Barangkali gurindam kurang kena
Tuan betulkan dengan sempurna

Inilah arti gurindam yang di bawah syatar ini

Persamaan yang indah-indah
Yaitu ilmu yang memberi faedah
Aku hendak bertutur
Akan gurindam yang beratur

1
INI GURINDAAM PASAL YANG PERTAMA

Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilang nama
Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri
Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat

2
INI GURINDAM PASAL YANG KEDUA

Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut
Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang
Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa
Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat
Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji

3
INI GURINDAM PASAL YANG KETIGA

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita
Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping
Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh
Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi

4
INI GURINDAM PASAL YANG KEEMPAT

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh
Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah
Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala
Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka
Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah
Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar
Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor
Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi
Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih

5
INI GURINDAM PASAL YANG KELIMA

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

6
INI GURINDAM PASAL YANG KEENAM

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat
Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru
Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri
Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan
Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi

7
INI GURINDAM PASAL YANG KETUJUH

Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta
Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka
Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat
Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih
Apabila banyak mencat (mencacat?) orang
Itulah tanda dirinya kurang
Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur
Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar
Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan
Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut
Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar
Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar

8
INI GURINDAM PASAL YANG KEDELAPAN

Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya
Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya
Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya
Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar
Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa
Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan
Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka

9
INI GURINDAM PASAL YANG KESEMBILAN

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan
Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa
Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja
Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan
Adapun orang tua(h) yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru

10
INI GURINDAM PASAL YANG KESEPULUH

Dengan bapa jangan derhaka
Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil

11
INI GURINDAM PASAL YANG KESEBELAS

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa
Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela
Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat
Hendak marah
Dahulukan hujjah
Hendak dimalui
Jangan memalui
Hendak ramai
Murahkan perangai

12
INI GURINDAM PASAL YANG KEDUABELAS

Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri
Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja
Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat
Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai
Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

Tamatlah gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita
Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu
dua ratus enam puluh tiga kepada tiga likur
hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima
Negeri Riau Pulau Penyengat

http://pribadi.or.id/ by firman abadi

Friday, December 01, 2006

Pesanan Syekh Abdul Kadir Jailani

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Sahabat-sahabatku yang dikasihi. Hati kamu adalah seumpama cermin yang berkilat. Kamu mesti membersihkannya daripada debu dan kekotoran yang menutupinya. Cermin hati kamu itu telah ditakdirkan untuk memancarkan cahaya rahsia-rahsia Ilahi.
Bila cahaya dari “Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi…” mula menyinari ruang hati kamu, lampu hati kamu akan menyala. Lampu hati itu “berada di dalam kaca, kaca itu sifatnya seumpama bintang berkilau-kilauan terang benderang…” Kemudian kepada hati itu anak panah penemuan-penemuan suci akan hinggap. Anak panah kilat akan mengeluarkan daripada awan petir maksud “bukan dari timur atau barat, dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkati…” dan memancarkan cahaya ke atas pokok penemuan, sangat tulen, sangat lutsinar sehingga ia “memancarkan cahaya walaupun tidak disentuh oleh api”. Kemudian lampu makrifat (hikmah kebijaksanaan) akan menyala sendiri. Mana mungkin ia tidak menyala sedangkan cahaya rahsia Allah menyinarinya?
Sekiranya cahaya rahsia Ilahi bersinar ke atasnya, langit malam kepada rahsia-rahsia akan menjadi terang oleh ribuan bintang-bintang “…dan berpandukan bintang-bintang (kamu) temui jalan (kamu)…”. Bukanlah bintang yang memandu kita tetapi cahaya Ilahi. Lantaran Allah “…menghiaskan langit rendah dengan keindahan bintang-bintang”. Sekiranya lampu rahsia-rahsia Ilahi dinyalakan di dalam diri batin kamu yang lain akan datang secara sekaligus atau beransur-ansur. Sebahagiannya kamu telah ketahui sebahagian yang lain akan kami beritahu di sini. Baca, dengar, cuba fahamkan. Langit ketidaksedaran (kelalaian) yang gelap akan dinyalakan oleh kehadiran Ilahi dan kedamaian serta keindahan bulan purnama yang akan naik dari ufuk langit memancarkan “cahaya di atas cahaya” berterusan meninggi di langit, melepasi peringkat yang ditentukan sebagaimana yang Allah telah tentukan bagi kerajaan-Nya, sehingga ia bersinar penuh kemuliaan di tengah-tengah langit, menghambat kegelapan kelalaian. “(Aku bersumpah) demi malam apabila ia senyap sepi…dengan cuaca pagi yang cemerlang…” malam ketidaksedaran kamu akan melihat terangnya hari siang. Kemudian kamu akan menghirup air wangi kenangan dan “bertaubat di awal pagi” terhadap ketidaksedaran (kelalaian) dan menyesali umur kamu yang dihabiskan di dalam lena. Kamu akan mendengar nyanyian burung bulbul di pagi hari dan kamu akan mendengarnya berkata:
Mereka tidur sedikit sahaja di malam hari dan pada awal pagi mereka memohon keampunan Allah
Allah bimbingkan kepada cahaya-Nya sesiapa yang Dia kehendaki.
Kemudian kamu akan melihat di ufuk langit peraturan Ilahi akan matahari ilmu batin mula terbit. Ia adalah matahari kamu sendiri, Lantaran kamu adalah “yang Allah beri petunjuk” dan kamu “berada pada jalan yang benar” dan bukan “mereka yang Dia tinggalkan di dalam kesesatan”. Dan kamu akan memahami rahsia:
Tidak diizinkan matahari mengejar bulan dan tidak pula malam mendahului siang. Tiap sesuatu berjalan pada landasan (masing-masing).
Akhirnya ikatan akan terurai selaras dengan “perumpamaan yang Allah adakan untuk insan dan Allah mengetahui tiap sesuatu”, dan tabir-tabir akan terangkat dan kulit akan pecah, mendedahkan yang seni di bawah pada yang kasar. Kebenaran akan membuka tutupan mukanya.
Semua ini akan bermula bila cermin hati kamu dipersucikan. Cahaya rahsia-rahsia Ilahi akan memancar Padanya jika kamu berhajat dan bermohon kepada-Nya, daripada-Nya, dengan-Nya.

Syekh Abdul Kadir Jailani Guru sekalian alam dan Muslimin.

Saturday, November 18, 2006

Simerahsilu dengan MIM..

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

heheeh ini dari yang aku temui di Forum CVT... http://www.harmonisers.net...dr merahsilu... cerita tentang MIM..MIM? pesan untuk diri ku ..pandang kepada yang banyak kembali kpd yang satu , pandang yang satu kembali kepada yang banyak..hayatilah dengan kesunguhaan Ha Ta Ya...ini jalan simerahsilu ..jalan aku sepertimana pula?

quote
Mim...

Tapi adakah kita berpegang pada mim itu sekarang, Muhammad? Apakah yang dikatakan berpegang pada mim jika sesetengah pengajian mengaitkan Qarin (kembar setiap manusia yang berbangsa jin) dikatakan sebagai roh yang berjalan malah ada yang berani kata itulah Muhammad yang berada dalam diri kita?

Biar saya beri apa yang saya tahu...

Kekuatan bangsa Melayu dalam mim ini terletak kepada penerimaan Tasawuf sejati berdaulat (bukan tempias mengarut yang diamalkan dalam sesetengah perguruan) dari peribadi-peribada zat mulia Ahlul Bait yang lari dari Timur Tengah akibat pergolakan politik dan diburu Bani Umaiyah juga Bani Abbasiyah lalu diterima oleh penduduk tempatan di Nusantara (baca balik beberapa sedutan buku "Berpetualang ke Aceh" yang saya post di CVT). Maka bangsa Melayu juga mendapat berkat naungan langit atas sebab memuliakan haq keluarga Nabi yang tersirat dalam setiap salawat terhadap Nabi - Allahumasaliala Muhammad wa ala ali Muhammad.

Perhatikan, macamana sekali pun selawat, selawat shifa ke apa ke, mesti ada perkata ALI MUHAMMAD atau ALI SAIDINA MUHAMMAD... yang ditujukan kepada anak cucu zuriat Nabi...

Ini juga terkandung dalam tahyat akhir: Berkatilah keluarga Muhammad seperti mana Engkau berkati keluarga Ibrahim...

Fahamilah ini... Tunjang kekuatan Melayu yang mulai penghujung abad ke 18 banyak dirosakkan Fahaman Wahabi yang mengaku Salafi, kerana mengtahyulkan perkara-perkara yang memuliakan Zat Muhammad seperti sambutan Maulidur Rasul

Pernah tengok logo asal PEKEMBAR atau UMNO yang dibuat tahun 1946. Carilah kalau dapat...

Logo tengah masih macam sekarang, ada huruf Fa, Kaf, Mim, Ba, Ro dengan lambang keris kiri-kanan terselit...

Yang hilang bahagian luar yang di kelilingi lima nama keramat iaitu Muhammad, Ali, Fatimah, Hassan, Hussin dan perkataan "TAK KENAL MAKA TAK CINTA".

Sekarang perkataan-perkataan ini dah lama hilang. PEKEMBAR pula terus dipanggil dengan nama Mat Salehnya UMNO (United Malays National Organisation)...

Bahasa jiwa bangsa... Jadi kita ni jiwa apa? Sedangkan pertubuhan paling besar mewakili bangsa Melayu dipanggil dengan nama dalam bahasa penjajah? Apalagi nak bercerita tentang kekuatan bangsa Melayu dari mim sedangkan anak cucu mim tidak lagi dilayan?

http://merahsilu.blogspot.com

Wednesday, July 19, 2006

Diri itu Siapa?

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.
Siapakah diri ku yang Sebenarnya?????????


Gelisah Dalam Kehidupan
Posted by Herry @ 05:02 | Artikel, Pengetahuan Islam Dasar, Tanya Jawab, Renungan, Kolom

Herry Mardian, Yayasan Paramartha.

[TANYA] Mas, mengapa sampai dengan sekarang saya masih merasa galau dengan diri saya sendiri (seingat saya saya mulai bertanya-tanya tentang diri saya sejak SD sampai dengan sekarang, kurang lebih 15 th), apalagi setelah saya baca kalimat “Siapa yang mengetahui dirinya, dia akan mengetahui Tuhannya”. Saya sangat berharap dengan balasannya. Terima kasih atas perhatiannya.

: : : : : : :

Sahabat, seringkah anda dihampiri pertanyaan-pertanyaan seperti ‘untuk apa semua ini? Apakah makna hidup saya? Kenapa hidup saya terasa datar saja, berputar-putar dari hari ke hari? Hanya pergantian episode senang dan sedih? Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya?’ pun mulai muncul di hati anda.

Sebenarnya, Allah setiap saat ‘memanggil-manggil’ kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja. Dia, dengan kasih sayang-Nya, terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa sehingga kalbunya dibuat-Nya ‘menoleh’ kepada Allah. Hanya saja, teramat sedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan, panggilan-Nya ini.

Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terus menerus mempertanyakan ‘Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya? Apa makna kehidupan saya?,’ dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari kesejatian? Mencari kebenaran? Mencari ‘Al-Haqq’? Allah, percayalah, akan selalu menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya.

Dalam hal ini, Allah amatlah pengasih. Apakah seseorang percaya kepada-Nya atau tidak, beragama atau tidak, Dia tidak pandang bulu. Apakah seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, percaya pada para utusan-Nya ataupun tidak, semua orang pernah dipanggil-Nya dengan cara seperti ini. Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan.

Bentuk ‘pancingan’ semacam ini pula yang dialami oleh para pencari, maupun para Nabi. Nabi Ibrahim yang gelisah dan mencari tempat mengabdi (ilah), yang diabadikan dalam QS 6:74-79. Juga kita lihat Nabi Musa, misalnya. Setelah hanyut di sungai nil, dia dibesarkan oleh salah seorang maha raja yang terbesar sepanjang sejarah, Ramses I. Hidup dalam kemewahan, kecukupan, hanya bersenang-senang. Tapi dia selalu ‘galau’ ketika melihat di sekelilingnya, bangsa Bani Israil, yang ketika itu menjadi warga mesir kelas rendahan, sebagai budak. Dia yang hidup dengan ayahnya Ramses I, tentunya setiap hari melihat sisi kemanusiaan ayahnya, normal saja. Dia mungkin hanya sedikit heran mengapa masyarakat mesir mau menyembah ayahnya.

Hanya saja, kadang kemewahan, kenyamanan, mengubur harta kita yang sangat berharga itu: potensi kita untuk mencari siapakah diri kita sebenarnya. Kita disibukkan oleh pekerjaan, dibuai oleh kesibukan, mengejar kesuksesan kerja, atau ditipu oleh dalih mengejar karir atau sekolah, atau nyaman bersama keluarga. Sangat sering, ketika hal ini terjadi, pertanyaan-pertanyaan esensial seperti itu, yaitu potensi pencarian kebenaran yang kita bawa sejak lahir, yang ketika kanak-kanak sangat nyata, terkubur dan terlupakan begitu saja seiring waktu kita menjadi semakin dewasa. Padahal, itu adalah ‘potensi mencari Allah’ yang Dia bekali untuk kita ketika lahir. Bukan berarti kita harus meninggalkan semua itu, bukan sama sekali. Tapi, jangan biarkan semua itu menenggelamkan potensi pencarian kebenaran yang telah Allah turunkan pada kita semenjak lahir.

Ketika kita tenggelam dalam dunia seperti itu, kita bahkan tidak menyadari bahwa kehidupan kita berputar-putar saja dari hari ke hari. Sekolah, mengejar karir, pergi pagi pulang sore, terima gaji, menikah, membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap hari, selama bertahun-tahun. Apakah hanya itu? Bukankah kita tanpa sadar telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja, tanpa makna? Celakanya, kita mencetak anak-anak kita untuk mengikuti pola yang sama dengan kita. Pada saatnya nanti, mungkin hidup mereka pun akan mengulangi putaran-putaran tanpa makna yang pernah kita tempuh.

Sangat jarang orang yang potensi pencariannya akan Allah belum terkubur. Dalam hal ini, jika kita masih saja gelisah mencari makna kehidupan, maka kegelisahan kita merupakan hal yang perlu disyukuri.

Berapa orang, sahabat, yang masih mau mendengarkan kegelisahannya sendiri? Padahal kegelisahannya itu merupakan rembesan dari jiwa yang menjerit tidak ingin terkubur dalam kehidupan dunia. Dia ‘menjerit’ ingin mencari Al-Haqq, dan ‘rembesannya’ kadang naik ke permukaan dalam bentuk kegelisahan.

Sayang, sebagian orang segera membantai kegelisahannya, potensi pencarian kebenarannya ini, justru pada saat ketika ia timbul; karena secara psikologis hal ini memang terasa tidak nyaman. Maka untuk melupakannya, ia semakin menenggelamkan diri lebih dalam lagi dalam pekerjaannya, kesibukannya, bersenang-senang, atau berdalih menutupi kegelisahannya dengan berusaha lebih lagi mencintai istri dan anak, atau keluarga, menenggelamkan diri dalam keasyikan hobi… dan sebagainya.

Atau, membantainya dengan kesenangan spiritual sesaat, seperti datang ke pengajian bukan dengan niat mencari-Nya tapi hanya untuk melenyapkan kegelisahannya, seperti obat sakit kepala saja: ketika sakit kepala, cari obat. Kegelisahan hilang, dia pun pergi lagi..

Atau juga dengan mengindoktrinasi dirinya: “Manusia diciptakan untuk beribadah!! Segala jawaban telah ada di Qur’an!!” Oke, tapi ibadah yang seperti apa? Bisakah kita benar-benar beribadah, tanpa mengetahui maknanya? Atau lebih jauh lagi, mampukah ia menjangkau makna Qur’an?

Beranikah kita jujur pada diri kita sendiri: Jika qur’an benar, mengapa kegelisahannya tidak hilang? Mengapa qur’an seperti kitab suci yang tidak teratur susunannya? Mengapa ayatnya kadang melompat-lompat, dari satu topik ke yang lainnya secara mendadak? Jika kita beriman, apakah iman itu? Apakah takwa itu? Apakah Lauhul Mahfudz? Apakah Ad-diin? Apakah Shiratal Mustaqim? Jalan yang lurus yang bagaimana? Mengapa qur’an terasa abstrak dan tak terjangkau makna sebenarnya? Ini sebenarnya pertanyaan-pertanyaan jujur, dan sama sekali bukan menghakimi qur’an.

Kadang orang terus saja mengindoktrinasi dirinya sendiri, padahal qur’an sendiri menyatakan bahwa tidak ada yang mampu menjangkaunya selain orang-orang yang disucikan/ Al-mutahharuun, (QS 56:77-79).

[Q.S. 56] “Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia (77). Pada kitab yang terpelihara (78). Dan tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan/ Al-muthahharuun (79).”

Apakah dia berani yakin bahwa dia adalah seorang yang telah disucikan, sehingga makna qur’an telah terbentang begitu jelas dihadapannya? Jika demikian, apa implikasi pernyataan : “Semua jawaban telah ada di Qur’an” baginya? Apakah ia akan terus saja membohongi diri dengan membaca terjemahan qur’an dan memaksakan diri meyakini bahwa ia telah mendapatkan maknanya?

Jeritan jiwanya tersebut ia timbun dengan segala cara. Ia tidak ingin mendengarkannya. Hal ini, sudah barang tentu akan membuat seseorang semakin terperangkap saja dalam rutinitasnya, dan semakin terkuburlah potensi pencariannya akan kebenaran. Padahal seharusnya ‘jeritan jiwa’ tersebut didengarkan. Jika anak kita menangis karena lapar, apakah kita akan pergi bersenang-senang untuk melupakannya, dan berharap anak kita akan berhenti menangis dengan sendirinya? Bukankah seharusnya kita mencari tahu, kenapa anak kita menangis?

Kembali kepada kisah Musa as. Demikian pula Musa, ia pun, sebagaimana kita semua, sejak kecil dibekali pertanyaan-pertanyaan dari dalam dirinya. Dibekali kegelisahan pencarian kebenaran. Bibit-bibitnya ada. Allah, untuk menumbuhkan bibit-bibit pencariannya itu supaya tidak terkubur dalam kemewahan kehidupan istana, menyiramnya dengan kebingungan yang lebih besar lagi.

Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya pernah membantai jutaan bayi lelaki Bani Israil. Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya menganggap Bani Israil adalah warga kelas dua yang rendah, bodoh, dan memang patut diperbudak. Puncaknya, ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa dirinya sendiri ternyata merupakan seorang anak Bani Israil, keturunan warga budak kelas dua, yang dipungut dari sungai Nil. Pada saat ini, pada diri seorang Pangeran Musa lenyaplah sudah harga dirinya. Hancur semua masa lalunya. Dia seorang tanpa sejarah diri sekarang. Ditambah lagi ia telah membunuh seorang lelaki, maka larilah ia terlunta-lunta, menggelandang di padang pasir, mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya.

Justru, pada saat inilah ia berangkat dengan pertanyaan terpenting bagi seorang pejalan suluk, yang telah tumbuh disiram subur oleh Allah dengan air kegalauan: “Siapa diriku sebenarnya?”.

Pertanyaan ini telah tumbuh kokoh dalam diri Musa as., dan sebagaimana kita semua mengetahui kisah lanjutannya, di ujung padang pasir Madyan ada seorang pembimbing untuk menempuh jalan menuju Allah ta’ala, yaitu Nabi Syu’aib as, yang lalu menyuruh anaknya untuk menjemput Musa dan membawa Musa kepadanya.

Di bawah bimbingannya, Musa dididik menempuh jalan taubat, supaya “arafa nafsahu”, untuk “arif akan nafs (jiwa)-nya sendiri”. Dan dengan bimbingan Syu’aib akhirnya ia mengerti dengan sebenar-benarnya (ia telah ‘arif), bahwa dirinya diciptakan Allah sebagai seorang Rasul bagi bangsa Bani Israil, bukan sebagai seorang pangeran Mesir. Ia menemukan kembali misi hidupnya, tugas kelahirannya yang untuk apa Allah telah menciptakannya. Ia telah menemukan untuk apa dia diciptakan, yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Setiap orang dimudahkan untuk mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu.” (Shahih Bukhari no. 2026)

Maka dari itu, sahabat-sahabat, jika ada diantara anda yang mungkin ingin sekali bertemu seorang guru sejati, atau seorang mursyid yang Haqq untuk minta bimbingannya, maka terlebih dahulu anda harus benar-benar mencari Allah, mencari kebenaran, mencari Al-Haqq. Pertanyaan “Siapakan aku? Untuk apa aku diciptakan?” harus benar-benar telah tumbuh dalam diri kita (dan itu pun bukan menjadi jaminan bahwa perjalanannya akan berhasil). Anda memang telah benar-benar butuh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Jika tidak demikian, atau jika belum merasa benar-benar membutuhkan, percayalah, tidak akan ada seorang mursyid sejati yang akan mengutus anak-anaknya untuk menjemput anda.

“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, bukan semata-mata artinya “siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.” Kata ” ‘Arafa”, juga “Ma’rifat,” berasal dari kata ‘arif, yang bermakna ’sepenuhnya memahami’, ‘mengetahui kebenarannya dengan sebenar-benarnya’; dan bukan sekedar mengetahui. dan nafsahu berasal dari kata ‘nafs’, salah satu dari tiga unsur yang membentuk manusia (Jasad, nafs, dan ruh).

Jadi, kurang lebih maknanya adalah “barangsiapa yang ‘arif (sebenar-benarnya telah mengetahui) akan nafs-nya, maka akan ‘arif pula akan Rabbnya”. Jalan untuk mengenal kebenaran hakiki, mengenal Allah, hanyalah dengan mengenal nafs terlebih dahulu.

Setelah arif akan nafs kita sendiri, lalu ‘arif akan Rabb kita, maka setelah itu kita baru bisa memulai melangkah di atas ‘Ad-diin’.

‘Arif akan Rabb, atau dalam bahasa Arab disebut ‘Ma’rifatullah’ (meng- ‘arifi Allah dengan sebenar-benarnya), sebenarnya barulah –awal– perjalanan, bukan tujuan akhir perjalanan sebagaimana dipahami kebanyakan orang. Salah seorang sahabat Rasul selalu mengatakan kalimatnya yang terkenal: “Awaluddiina ma’rifatullah”, Awalnya diin adalah ma’rifat (meng-’arif-i) Allah. []

(Herry Mardian, tulisan lama: 23 Februari 2005)
Creative Commons License

Tuesday, June 27, 2006

GERAK DAN LAKU

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Kelmarin kutemui lg satu website http://www.menjaro.com - layarilah mudah-mudah ada manfaatnya..ini khazanah yg kuambil...rungkailah intipatinya ..

1. MEDITASI ZIKIR

Kelemahan sekaligus kekuatan manusia adalah fikirannya, mind - nya. Mind manusia merupakan alat perakam yang super canggih. Sesuatu yang terakam pada pita Mind tidak mudah di hapuskan begitu sahaja. Selanjutnya rakaman itulah yang mempengaruhi kualiti kehidupan apabila yang terakam adalah," Aku lahir dalam dosa, aku mati dalam dosa, maka dosalah yang mewarnai kehidupan anda. Apabila yang terakam adalah aku lahir dalam kasih, aku mati dalam kasih", maka kasihlah yang mewarnai kehidupan anda.

Anda boleh memilih sesuatu yang hidup, sesuatu yang dinamis, sesuatu yang berwarna atau sesuatu yang mati. Pilihan ditangan anda sepenuhnya. Apabila anda sedar, anda dapat memilih sesuatu yang cerah apabila anda tidak sedar anda akan memilih sesuatu yang kelam.

Perhatikan keupayaan iklan untuk mempengaruhi mind anda. Setiap hari anda dihidangkan dengan," Minuman Tongkat Ali" atau "Minuman Kacip Fatimah," atau setiap hari ada yang berusaha untuk meyakinkan anda bahawa "Viagra" dapat mengembalikan kejantanan anda. Kemudian anda mula mempercayai mereka. Seorang Paranormal mengatakan anda akan jatuh sakit bukannya ramalannya benar justeru anda menyakini ramalanya.

Saya pernah mengatakan demikian sewaktu mengadakan kursus di Selatan tanah air kepada seorang teman. Ia memberontak, " oh tidak begitu. Sewaktu saya ketempatnya saya tidak mempercayainya ." Saya mengatakan kembali" lantas kenapa kamu pergi ketempatnya?" Ia menjelaskan saya di hantar oleh seorang teman , dialah yang memaksa saya". ….emm boleh di paksa ke ? Siapa yang boleh memaksakan kamu, kalau bawah sedar mu tidak ada keinginan untuk menemui peramal / paranormal itu? Ada yang memaksa kamu membunuh orang, apakah kamu akan membunuh? Apa bila anda boleh di paksa, ketahuilah bahawa sebenarnya anda "mahu dipaksa". Tanpa kemahuan dari dalam diri sendiri tidak seorang pun dapat memaksa anda.

Selama ini, kita mempercayai " ketidak berdayaan diri ". Sebab itulah kita sangat tidak berdaya. Saya ingin mengajak anda untuk memberdaya diri mulai dari sekarang, saat ini juga!

Sekarang jiwa anda perlu di isi, isilah dengan sesuatu yang bermakna, yang berharga, yang bernilai tinggi. Pada satu ketika nanti terjadilah peleburan dalam kemulianya. Anda tidak memerlukan yang lain selain darinya. Sekarang isilah diri anda dengan Asmaaq Allah.

Carilah Muhammad SAW - RatuKama.

Tuesday, June 20, 2006

Tradisi

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Pantas dicontoh dan diturut

Cara mencapai keutamaan

Keutamaan dasar kemuliaan

Kemuliaan jiwa raga

Tidak harus sama persis

Seperti leluhur jaman dahulu



Tetapi agar diusahakan

Sebatas kemampuan diri

Jangan meninggalkan keteladanan

Jika tidak demikian, anakku

Sungguh merugi hidup ini

Maka perhatikanlah anakku.




Pantes tinulad tinurut

Laladane mrih utami

Utama kembanging mulya

Kamulyaning jiwa dhiri

Ora kena yen ta ngeplekana

Lir leluhur nguni-uni



Ananing ta kudu-kudu

Sakadarira pribadi

Aywa tinggal tutuladhan

Lamun tan mangkono kaki

Yekti tuna ing tumitah

Poma kestokena kaki.

Saturday, June 17, 2006

Wajah Tanya -LIE Amhar

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Friday, February 17, 2006
Wajah Tanya ......

Untukmu
Kubacakan salam qur'an
wahai sukma kesenyapan

o... para pencari
senyapmu lebih senyap dari penghuni kubur
biarkan tapak melebur

Berpikir tentang.....
sampai lelah dititik paling lemas
sampai tanya tak sekedar bahasa

merenung setangguh gunung
merasa Selembut asa
mengindera sekuat fisika
menjerit setinggi langit
menangis sesedih gerimis
tertawa senikmat canda
berkata sejelas suara
membungkam sesepi malam

bahkan, taat setaat malaikat
tetap saja tanya selalu ada
tetap saja rahasia selalu menyapa

O...jiwa-jiwa petapa
dunia adalah tempat cinta bekerja
Ibadah bukanlah menjauhi masalah
Pasrah bukanlah menyerah
sejarah adalah rangkaian duka menuju suka

Tersenyumlah.....
biarkan yang lupa
merasa menang lalu tertawa
merasa kalah lalu ke gua

Tertawalah....
Menahan tawa kau kan jadi gila !

Bertannyalah...
Setiap tanya menyimpan rahasia,
di tanya awal segala
di tanya akhir segala

Melangkahlah...
Berjalan bukan menempuh jarak,
tapi berakhlak dengan akhlak Sang punya jarak
sampai keringat tak sudi diingat

Dimenara hati aku bersaksi,
pasung kesombongan!

Pasti, dalam senyap menyelinap terdekap harap

O...harap yang terdekap senyap
Di titian waktu kita berpacu
berteman bayu menuju satu
ketemu di ujung,
bergerak ke ujung yang lain
menuju dunia yang diluar kata-kata

Dimana,
air jadi syair,
Laut jadi lahut,
udara jadi cinta,
asap jadi harap,
tanya jadi makna,
landai jadi andai,

Ada melebur kata,
dimana?


by Semesta Sabda
Bandung 2003

Sajak diatas saya kutip dari novel seri filsafat "Semesta Sabda by Fauz Noor"
seperti biasa kutipan ^_^

Pencari........
yaa Amhar banget hehehe

lieamhar.blogspot

Thursday, June 08, 2006

Dzikrullah

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.
Dzikrullah, adalah tuntunan masalah ruhiyah atau yang berhubungan dengan masalah pengalaman ruhiyah (batin). Melalui tuntunan ini, anda akan diajak meruntun jejak Al Qur'an secara kauniyah. Ada banyak sekali pertanyaan pada kita. Sebagian dari pertanyaan ini mungkin kelihatan mudah dan jelas sekali bagi sekelompok orang, dan dapat dijawab dengan mudah . Untuk pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hukum (fiqih) serta ilmu pengetahuan, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan bukti-bukti yang kuat yang membuat kita menjadi jelas dan tidak ragu-ragu lagi atas kebenaran jawaban yang diberikan. Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah terjawab dengan baik.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya amat mendasar, tetapi tidak pernah mendapat jawaban yang konkret dengan bukti, karena selama ini dianggap tidak mungkin, antara lain adalah:

* Apakah ada shalat khusyu' itu ? Mungkinkah orang awam seperti kita bisa melakukannya ?
* Benarkah ibadah itu nikmat dan dapat menenangkan jiwa ?
* Bagaimana Allah menjawab setiap doa ?
* Bagaimana cara membedakan ilham dari Allah dan ilham dari syetan ?
* Mengapa berbuat jahat lebih mudah, sedangkan berbuat baik memerlukan upaya yang luar biasa beratnya? Mungkinkah berbuat baik akan sangat mudah, sebagaimana mengalirnya rasa jahat pada jiwa kita?
* Adakah cara mudah untuk mencapai ma'rifat kepada Allah ?
* Apakah hakikat diri, dan mengapa harus kembali kepada Allah ? Dll ....

Kita semua sudah mendengar dan memperoleh jawaban untuk hal-hal tersebut. Tetapi karena jawaban tersebut tidak diberikan dengan bukti dan hanya disampaikan dengan istilah katanya dan katanya ..... maka sampai detik ini semua pertanyaan tersebut terabaikan dan akibatnya kita memaklumkan ketidak-khusyuan, dan tidak dikabulkannya doa merupakan hal yang tidak penting. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas mungkin sebagian dari kita sulit untuk mempercayai kalau hal itu bisa terjadi dan dirasakan oleh kita secara langsung!!!

Mudah-mudahan melalui tuntunan ini http://www.dzikrullah.com/ kita sampai kepada jawaban dan keadaan iman yang sebenarnya berlandaskan Al Qur'an dan As sunnah. Metode yang disajikan sangat sederhana dan mudah difahami serta bisa dipraktekkan di rumah masing-masing, secara langsung dan tanpa perantara.

Wassalam

http://www.dzikrullah.com/

Tuesday, June 06, 2006

Huttaqi

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
P r o l o g

Di dalam sejarah manusia,
Seringkali manusia mempertanyakan tentang dirinya,
"man arofa nafsahu faqod arofa robbahu"

Siapakah dirinya ?
Darimanakah dirinya berasal ?
Untuk tujuan apakah hidup didunia ini ?
Kemanakah nanti dirinya akan kembali ?

Dan seabreg pertanyaan-pertanyaan lain yang sulit untuk dijawab.

Sudah ribuan jilid buku yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,
Sudah ratusan pemikir-pemikir, filosof-filosof yang mencoba menjawabnya,
Dan tidak sedikit pula yang kemudian tahu,
Bahwa tak dapat tidak haruslah ditempuh melalui laku,
Dan bukan melalui buku,
Dan tidak sedikit pula yang kemudian mengerti,
Bahwa tidak mungkin untuk ditempuh melalui teori-teori,
Melainkan harus dijalani,
untuk kemudian dicoba dan diuji,

Milist 'huttaqi' adalah sarana dialog, dari hati ke hati dengan meningkatkan daya akal pikir yang sudah diberikan oleh Alloh sebagai Cahaya-cahaya yang menyinari.

Milist 'huttaqi', hanyalah sebagai wadah. Bagi pertanyaan-pertanyaan yang ditemui dalam Perjalanan seorang anak manusia menuju Tuhannya,

Dan mungkin hanyalah bercerita tentang sesuatu,
Dan perlu diuji dan diuji kebenarannya,

Maka ingatlah,
"Jangan terburu-buru di telan meski manis adanya,
siapa tahu itu racun yang dibungkus dengan madu,
jangan terburu-buru dimuntahkan meski pahit adanya,
siapa tahu itu adalah obat yang menyembuhkan"

Tak ada harapan lain,
Kecuali RidhoNya,
"yaa illahi antal maksudi wa ridhoka mathlubi"

Salam,

'huttaqi'(Edi Setiawan)

http://www.huttaqi.com

Istana

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Hendak jadi orang Istana maka kenalah rajin pergi ke Istana.
Kalau padi katakan padi tidak Aku tertampi-tampi,
Kalau sudi katakan sudi tidak Aku ternanti-nanti,
Jika sudah benar kata hatimu itu turutlah ia hingga keakar umbi - dari kulit ke inti pati.

Khazanah

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.•

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mahu menerima petunjuk."

MADAH.
Tuntutlah Ilmu, Beramallah daripada Ilmu yang berguna Allah tidak memandang rupamu, hartamu,
Allah memandang Taqwamu.Ingatlah Iman itu tidak akan datang melayang bertahta di Hati!

Sunday, June 04, 2006

Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendakNYA


Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan,yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti,yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gusti Allah.

Tan samar pamoring Suksma
Sinuksmaya winahya ing ngasepi
sinimpen ing telenging kalbu
pambukaning warana
tarlen saking liyep layaping aluyup
pindha pesating sumpena
sumusuping rasa jati

Upaya manusia untuk memahami keberadaannya diantara semua makhluk yang tergelar di jagad raya, yang notabene adalah makhluk, telah membawa manusia dalam perjalanan pengembaraan yang tak pernah berhenti. Pertanyaan tentang dari mana dan mau kemana (sangkan paraning dumadi) perjalanan semua makhluk terus menggelinding dari jaman ke jaman sejak adanya " ada ". Pertanyaan yang amat sederhana tetapi substansiil tersebut, ternyata mendapatkan jawaban yang justru merupakan pertanyaan-pertanyaan baru dan sangat beragam, bergantung dari kualitas sang penanya.

Perkembangan kecerdasan dan kesadaran manusia telah membentuk budaya pencarian yang tiada henti. Apalagi setelah muncul kesadaran religius yang mempertanyakan " apa atau siapa yang membuat ada " semakin menggiring manusia ke dalam petualangan meraba-raba di kegelapan rimba raya pengetahuan.

Di dalam kegelapan itulah benturan demi benturan akibat perbedaan pemahaman terjadi. Benturan paling purba berawal dari kisah Adam dan Hawa yang melemparkan mereka dari surga. Benturan terkadang teramat dahsyat sehingga " perlu " genangan darah dan air mata, yang dipelopori oleh Habil dan Qabil. Kesemuanya bermuara pada kata sakti yang bernama " kebenaran " yang sungguh sangat abstrak dan absurd. Tetapi bukankah hidup dan kehidupan ini abstrak dan absurd ? sehingga tak terjabarkan oleh akal-pikir yang paling canggih sekalipun.

Ketika akal-pikir tak lagi mampu menjawab pertanyaan diatas, manusia mulai menggali jawaban dari " rasa " sampai akhirnya manusia merasa seolah-olah telah menemukan apa yang dicari. Tetapi ketika pengembaraan rasa tersebut sampai pada titik simpang, dimana di satu sisi muncul kebutuhan untuk melembagakan hasil " temuan rasa " tersebut dan di sisi lain menolak pelembagaan, kembali terjadi benturan-benturan yang sesungguhnya sangat tidak perlu terjadi. Sesuatu yang tidak akan pernah diketahui, baik dengan akal-pikir dan rasa, bahkan intuisi sekalipun. Sebab " dia " adalah Sang Maha Gaib. Rumusan apapun tentang " dia " seperti apa yang telah dilakukan oleh manusia pasti akan menemui kegagalan. Karena " dia " tidak pernah merumuskan " dirinya " secara kongkrit, kecuali dalam bentuk simbol-simbol dan lambang-lambang yang metaforik.

Perjalanan panjang manusia yang menempuh jarak jutaan tahun untuk mendapatkan jawaban pasti tentang " dia " menjadi amat bervariasi. Tetapi kepastian itu sendiri tidak pernah dijumpai. Sehingga sebagian manusia menjadi putus asa, karena perjalanan pencariannya tak ubahnya seperti tragedi Syshipus, sebuah perjalanan kehilangan.

Sementara untuk sebagian manusia lainnya, semangat pencariannya justru semakin menggebu. Mereka tidak pernah patah, karena mereka tidak terpukau oleh hasil akhir. Telah muncul kesadaran baru pada mereka, bahwa yang terpenting adalah proses pencarian itu sendiri. Bertemu atau tidak bukan lagi menjadi pangkal kerisauan, karena mereka menyadari, bahwa keputusan tidak berada di tangan manusia.

Nah mereka inilah para pejalan spiritual, sang pencari sejati yang selalu haus pada pengalaman empiris di belantara pengetahuan tentang hal-hal yang abstrak, absurd dan gaib. Dan mereka adalah kita.

Syarat utama bagi para pejalan spiritual adalah kebersediaannya dan kemampuannya menghilangkan atau menyimpan untuk sementara pemahaman dogmatis yang telah dimilikinya, dan mempersiapkan diri dengan keterbukaan hati dan pikiran untuk merambah jagad ilmu pengetahuan ( kawruh ) non-ragawi. Ilmu yang gawat dan wingit, karena sifatnya sangat mempribadi dan tidak bisa diseragamkan dengan idiom-idiom yang ada, dimana idiom-idiom itu hanya bisa dipergunakan sebagai rambu penunjuk yang kebenarannya juga sangat relative.

Pengalaman spiritual adalah pengalaman yang sangat unik dan sangat individual sifatnya, sehingga kaidah-kaidah yang paling dogmatispun tak akan mampu memberikan hasil yang sama bagi individu yang berbeda. Perjalanan spiritual adalah proses panning upaya manusia untuk pencapaian tataran-kahanan ( strata, maqom ) pembebasan, yaitu kemerdekaan untuk menjadi merdeka ( freedom to be free ) dari segala bentuk keterikatan dan kemelekatan serta kepemilikan yang membelenggu, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, seprti dijalani oleh para penuntun spiritual dimasa lampau.

Jika persyaratan diatas sudah disepakati, barulah terasa ada perlunya perjalanan wisata spiritual yang baru saja kita lakukan. Jika terjadi pengalaman mistis bagi satu atau beberapa orang, harus disikapi sebagai pengalaman yang bersifat " sangat individual " yang tidak bisa diseragamkan.

Yang lama, kita pahami, Yang kini kita mengerti, Kedepan kita sikapi

KAUTAMANING LAKU
1. Wong eling ing ngelmu sarak dalil sinung kamurahaning Pangeran.
2. Wong amrih rahayuning sesaminira, sinung ayating Pangeran.
3. Angrawuhana ngelmu gaib, nanging aja tingal ngelmu sarak, iku paraboting urip kang utama.
4. Aja kurang pamariksanira lan den agung pangapunira.
5. Agawe kabecikan marang sesaminira tumitah, agawea sukaning manahe sesamaning jalma.
6. Aja duwe rumangsa bener sarta becik, rumangsa ala sarta luput, den agung, panalangsanira ing Pangeran Kang Maha Mulya, lamun sira ngrasa bener lawan becik, ginantungan bebenduning Pangeran.
7. Angenakena sarira, angayem-ayema nalarira, aja anggrangsang samubarang kang sinedya, den prayitna barang karya.
8. Elinga marang Kang Murbeng Jagad, aja pegat rina lan wengi.
9. Atapaa geniara, tegese den teguh yen krungu ujar ala.
10. Atapaa banyuara, tegese ngeli, basa ngeli iku nurut saujaring liyan, datan nyulayani.
11. Tapa ngluwat, tegese mendhem atine aja ngatonake kabecikane dhewe.
12. Aprang Sabilillah, tegese prang sabil iku, sajroning jajanira priyangga ana prang Bratayudha, prang ati ala lan ati becik

http://www.jawapalace.org

sing sapa reka arsa anglakoni

amutiha lawan amawasa

patangpuluh dina wae

lan tangi wektu subuh lan den sabar sukur ing ati

Isya ALLAH tinekan sak karsaniku,

nyawabi nakrakyatira.

saking sawab ing ilmu pangiket mami,

duk uneng Kalijaga

-jawapalace-

KEJAWEN

Mari kita mengutip satu tembang Jawa



Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan ini

Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu

Kabatinan akeh lire kabatinan banyak macamnya

Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat

Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah

Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih

Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan








Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia)dan Gusti(Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti )/pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.

Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur. beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap.Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti – hati suci itu adalah hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan mencari makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.

Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka bergotong royong dengan semboyannya “saiyeg saekoproyo “ yang berarti sekata satu tujuan.

Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.

Kejawen adalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkebang dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.

Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, dan sebagainya. Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara kematian yaitu medoakan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua tahun ,tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal ( tahlhilan ). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.

Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah.Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya sangkakala.

Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)

Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.

1. Sembah Raga

Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus menerus, seperti bait berikut:

Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking wawaton 34

Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih). Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali. Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup. Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan rukun, maka sembah itu tidak sah.

Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya, ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.

2. Sembah Cipta (Kalbu)

Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 terdahulu dan Pupuh Gambuh bait 11 berikut:

Samengkon sembah kalbu/ yen lumintu uga dadi laku/ laku agung kang kagungan narapati/ patitis teteking kawruh/ meruhi marang kang momong. 35

Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau keinginan yang tersimpan di dalam hati 36 , kalbu berarti hati 37 , maka sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati, bukan sembah gagasan atau angan-angan.

Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu).

Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat. Pertama, membersihkan hadats dan najis yang bersifat lahiriah. Kedua, membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa. Ketiga, membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina. Keempat, membersihkan hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin… 38

Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain Allah.

3. Sembah Jiwa

Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma (Allah) 39 dengan mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:

Samengko kang tinutur/ Sembah katri kang sayekti katur/ Mring Hyang Sukma suksmanen saari-ari/ Arahen dipun kecakup/ Sembahing jiwa sutengong 40

Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting. Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan suluk). Inilah akhir perjalann hidup batiniah. Cara bersucinya tidak seperti pada sembah raga dengn air wudlu atau mandi, tidak pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan alam baka/langgeng), alam Ilahi. Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan jelas pada bait berikut:

Sayekti luwih perlu/ ingaranan pepuntoning laku/ Kalakuan kang tumrap bangsaning batin/ Sucine lan awas emut/ Mring alaming lama amota.41

Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.

Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan Mangkunegara IV pada bait berikut:

"Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring kelaping alam kono."

4. Sembah Rasa

Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam, demikian menurut Mangkunegara IV.

Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga (inti ruh yang paling halus).

Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.

Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:

Semongko ingsun tutur/ gantya sembah lingkang kaping catur/ sembah rasa karasa wosing dumadi/ dadi wus tanpa tuduh/ mung kalawan kasing batos.42

Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.

Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.

Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:

Iku luwih banget gawat neki/ ing rarasantang keneng rinasa/ tan kena ginurokake/ yeku yayi dan rampung/ eneng onengira kang ening/ sungapan ing lautan/ tanpa tepinipun/ pelayaran ing kesidan/ aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.43

http://www.jawapalace.org

Thursday, June 01, 2006

SAJAK MENGENAL DIRI.

Satu haribulan Rejangnya kuda,
Kuda Pasai ke Inderagiri,
Wahai pemuda jangan menyesal,
Tuntutlah ilmu Mengenal Diri.

Mengenal Diri adalah tugas,
Supaya membezakan Qadim dan Baharu,
Hidup didunia hendaklah cergas,
Bekalan akhirat sangatlah perlu.

Tahukah Tuan,
apa dia matahari , bulan , bintang,
bagi dirimu yang nyata terbentang ,
yang berselimut dan bertelanjang.

Kenallah dirimu dengan nyata,
Zahir dan Batin berserta,
Apa dia nafsu atau jiwa,
Yang mana hati dan nyawa.

Tahukaah tuan apa dia rahsia,
zahirmu didalam dunia,
ingin menerima mati sesudah sempurna,
menuju akhirat yang utama.

Tuhan bernama Allah,
semua makhluk jadi kalah,
DIA mengetahui benar dan salah,
tahukah kamu dimana masaalah.

Muhammad bernama Rasulullah,
Adam Saupiallah,
Insan rahsia Allah,
Makhlukat hamba Allah.

Abu Zar sahabat Nabi,
mengajar Sirrullah dibenarkan Nabi,
Huzaifah sahabat Rasulullah,
dia mengajar Ilmu Sirullah,

Peristiwa Ilmu Sirullah,
diajar Nabi dimasa Madinatul Munawarah,
sekarang dikenal dengan nama Ilmu Tasaup,
maka dikenal jua Ilmu Roh.

Ilmu Sirullah satu daripada Usul,
Usul bernama .......... ,
Supaya umat Islam jangan tersassul,
kenallah diri punca Usul.

Apakah dia budi,
Jika tidak Mengenal Diri,
Mengenal Diri jadi kemudi,
belayar ke akhirat dengan segala puji.