Tuesday, June 27, 2006

GERAK DAN LAKU

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Kelmarin kutemui lg satu website http://www.menjaro.com - layarilah mudah-mudah ada manfaatnya..ini khazanah yg kuambil...rungkailah intipatinya ..

1. MEDITASI ZIKIR

Kelemahan sekaligus kekuatan manusia adalah fikirannya, mind - nya. Mind manusia merupakan alat perakam yang super canggih. Sesuatu yang terakam pada pita Mind tidak mudah di hapuskan begitu sahaja. Selanjutnya rakaman itulah yang mempengaruhi kualiti kehidupan apabila yang terakam adalah," Aku lahir dalam dosa, aku mati dalam dosa, maka dosalah yang mewarnai kehidupan anda. Apabila yang terakam adalah aku lahir dalam kasih, aku mati dalam kasih", maka kasihlah yang mewarnai kehidupan anda.

Anda boleh memilih sesuatu yang hidup, sesuatu yang dinamis, sesuatu yang berwarna atau sesuatu yang mati. Pilihan ditangan anda sepenuhnya. Apabila anda sedar, anda dapat memilih sesuatu yang cerah apabila anda tidak sedar anda akan memilih sesuatu yang kelam.

Perhatikan keupayaan iklan untuk mempengaruhi mind anda. Setiap hari anda dihidangkan dengan," Minuman Tongkat Ali" atau "Minuman Kacip Fatimah," atau setiap hari ada yang berusaha untuk meyakinkan anda bahawa "Viagra" dapat mengembalikan kejantanan anda. Kemudian anda mula mempercayai mereka. Seorang Paranormal mengatakan anda akan jatuh sakit bukannya ramalannya benar justeru anda menyakini ramalanya.

Saya pernah mengatakan demikian sewaktu mengadakan kursus di Selatan tanah air kepada seorang teman. Ia memberontak, " oh tidak begitu. Sewaktu saya ketempatnya saya tidak mempercayainya ." Saya mengatakan kembali" lantas kenapa kamu pergi ketempatnya?" Ia menjelaskan saya di hantar oleh seorang teman , dialah yang memaksa saya". ….emm boleh di paksa ke ? Siapa yang boleh memaksakan kamu, kalau bawah sedar mu tidak ada keinginan untuk menemui peramal / paranormal itu? Ada yang memaksa kamu membunuh orang, apakah kamu akan membunuh? Apa bila anda boleh di paksa, ketahuilah bahawa sebenarnya anda "mahu dipaksa". Tanpa kemahuan dari dalam diri sendiri tidak seorang pun dapat memaksa anda.

Selama ini, kita mempercayai " ketidak berdayaan diri ". Sebab itulah kita sangat tidak berdaya. Saya ingin mengajak anda untuk memberdaya diri mulai dari sekarang, saat ini juga!

Sekarang jiwa anda perlu di isi, isilah dengan sesuatu yang bermakna, yang berharga, yang bernilai tinggi. Pada satu ketika nanti terjadilah peleburan dalam kemulianya. Anda tidak memerlukan yang lain selain darinya. Sekarang isilah diri anda dengan Asmaaq Allah.

Carilah Muhammad SAW - RatuKama.

Tuesday, June 20, 2006

Tradisi

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Pantas dicontoh dan diturut

Cara mencapai keutamaan

Keutamaan dasar kemuliaan

Kemuliaan jiwa raga

Tidak harus sama persis

Seperti leluhur jaman dahulu



Tetapi agar diusahakan

Sebatas kemampuan diri

Jangan meninggalkan keteladanan

Jika tidak demikian, anakku

Sungguh merugi hidup ini

Maka perhatikanlah anakku.




Pantes tinulad tinurut

Laladane mrih utami

Utama kembanging mulya

Kamulyaning jiwa dhiri

Ora kena yen ta ngeplekana

Lir leluhur nguni-uni



Ananing ta kudu-kudu

Sakadarira pribadi

Aywa tinggal tutuladhan

Lamun tan mangkono kaki

Yekti tuna ing tumitah

Poma kestokena kaki.

Saturday, June 17, 2006

Wajah Tanya -LIE Amhar

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Friday, February 17, 2006
Wajah Tanya ......

Untukmu
Kubacakan salam qur'an
wahai sukma kesenyapan

o... para pencari
senyapmu lebih senyap dari penghuni kubur
biarkan tapak melebur

Berpikir tentang.....
sampai lelah dititik paling lemas
sampai tanya tak sekedar bahasa

merenung setangguh gunung
merasa Selembut asa
mengindera sekuat fisika
menjerit setinggi langit
menangis sesedih gerimis
tertawa senikmat canda
berkata sejelas suara
membungkam sesepi malam

bahkan, taat setaat malaikat
tetap saja tanya selalu ada
tetap saja rahasia selalu menyapa

O...jiwa-jiwa petapa
dunia adalah tempat cinta bekerja
Ibadah bukanlah menjauhi masalah
Pasrah bukanlah menyerah
sejarah adalah rangkaian duka menuju suka

Tersenyumlah.....
biarkan yang lupa
merasa menang lalu tertawa
merasa kalah lalu ke gua

Tertawalah....
Menahan tawa kau kan jadi gila !

Bertannyalah...
Setiap tanya menyimpan rahasia,
di tanya awal segala
di tanya akhir segala

Melangkahlah...
Berjalan bukan menempuh jarak,
tapi berakhlak dengan akhlak Sang punya jarak
sampai keringat tak sudi diingat

Dimenara hati aku bersaksi,
pasung kesombongan!

Pasti, dalam senyap menyelinap terdekap harap

O...harap yang terdekap senyap
Di titian waktu kita berpacu
berteman bayu menuju satu
ketemu di ujung,
bergerak ke ujung yang lain
menuju dunia yang diluar kata-kata

Dimana,
air jadi syair,
Laut jadi lahut,
udara jadi cinta,
asap jadi harap,
tanya jadi makna,
landai jadi andai,

Ada melebur kata,
dimana?


by Semesta Sabda
Bandung 2003

Sajak diatas saya kutip dari novel seri filsafat "Semesta Sabda by Fauz Noor"
seperti biasa kutipan ^_^

Pencari........
yaa Amhar banget hehehe

lieamhar.blogspot

Thursday, June 08, 2006

Dzikrullah

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.
Dzikrullah, adalah tuntunan masalah ruhiyah atau yang berhubungan dengan masalah pengalaman ruhiyah (batin). Melalui tuntunan ini, anda akan diajak meruntun jejak Al Qur'an secara kauniyah. Ada banyak sekali pertanyaan pada kita. Sebagian dari pertanyaan ini mungkin kelihatan mudah dan jelas sekali bagi sekelompok orang, dan dapat dijawab dengan mudah . Untuk pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hukum (fiqih) serta ilmu pengetahuan, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan bukti-bukti yang kuat yang membuat kita menjadi jelas dan tidak ragu-ragu lagi atas kebenaran jawaban yang diberikan. Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah terjawab dengan baik.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya amat mendasar, tetapi tidak pernah mendapat jawaban yang konkret dengan bukti, karena selama ini dianggap tidak mungkin, antara lain adalah:

* Apakah ada shalat khusyu' itu ? Mungkinkah orang awam seperti kita bisa melakukannya ?
* Benarkah ibadah itu nikmat dan dapat menenangkan jiwa ?
* Bagaimana Allah menjawab setiap doa ?
* Bagaimana cara membedakan ilham dari Allah dan ilham dari syetan ?
* Mengapa berbuat jahat lebih mudah, sedangkan berbuat baik memerlukan upaya yang luar biasa beratnya? Mungkinkah berbuat baik akan sangat mudah, sebagaimana mengalirnya rasa jahat pada jiwa kita?
* Adakah cara mudah untuk mencapai ma'rifat kepada Allah ?
* Apakah hakikat diri, dan mengapa harus kembali kepada Allah ? Dll ....

Kita semua sudah mendengar dan memperoleh jawaban untuk hal-hal tersebut. Tetapi karena jawaban tersebut tidak diberikan dengan bukti dan hanya disampaikan dengan istilah katanya dan katanya ..... maka sampai detik ini semua pertanyaan tersebut terabaikan dan akibatnya kita memaklumkan ketidak-khusyuan, dan tidak dikabulkannya doa merupakan hal yang tidak penting. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas mungkin sebagian dari kita sulit untuk mempercayai kalau hal itu bisa terjadi dan dirasakan oleh kita secara langsung!!!

Mudah-mudahan melalui tuntunan ini http://www.dzikrullah.com/ kita sampai kepada jawaban dan keadaan iman yang sebenarnya berlandaskan Al Qur'an dan As sunnah. Metode yang disajikan sangat sederhana dan mudah difahami serta bisa dipraktekkan di rumah masing-masing, secara langsung dan tanpa perantara.

Wassalam

http://www.dzikrullah.com/

Tuesday, June 06, 2006

Huttaqi

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
P r o l o g

Di dalam sejarah manusia,
Seringkali manusia mempertanyakan tentang dirinya,
"man arofa nafsahu faqod arofa robbahu"

Siapakah dirinya ?
Darimanakah dirinya berasal ?
Untuk tujuan apakah hidup didunia ini ?
Kemanakah nanti dirinya akan kembali ?

Dan seabreg pertanyaan-pertanyaan lain yang sulit untuk dijawab.

Sudah ribuan jilid buku yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,
Sudah ratusan pemikir-pemikir, filosof-filosof yang mencoba menjawabnya,
Dan tidak sedikit pula yang kemudian tahu,
Bahwa tak dapat tidak haruslah ditempuh melalui laku,
Dan bukan melalui buku,
Dan tidak sedikit pula yang kemudian mengerti,
Bahwa tidak mungkin untuk ditempuh melalui teori-teori,
Melainkan harus dijalani,
untuk kemudian dicoba dan diuji,

Milist 'huttaqi' adalah sarana dialog, dari hati ke hati dengan meningkatkan daya akal pikir yang sudah diberikan oleh Alloh sebagai Cahaya-cahaya yang menyinari.

Milist 'huttaqi', hanyalah sebagai wadah. Bagi pertanyaan-pertanyaan yang ditemui dalam Perjalanan seorang anak manusia menuju Tuhannya,

Dan mungkin hanyalah bercerita tentang sesuatu,
Dan perlu diuji dan diuji kebenarannya,

Maka ingatlah,
"Jangan terburu-buru di telan meski manis adanya,
siapa tahu itu racun yang dibungkus dengan madu,
jangan terburu-buru dimuntahkan meski pahit adanya,
siapa tahu itu adalah obat yang menyembuhkan"

Tak ada harapan lain,
Kecuali RidhoNya,
"yaa illahi antal maksudi wa ridhoka mathlubi"

Salam,

'huttaqi'(Edi Setiawan)

http://www.huttaqi.com

Istana

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.

Hendak jadi orang Istana maka kenalah rajin pergi ke Istana.
Kalau padi katakan padi tidak Aku tertampi-tampi,
Kalau sudi katakan sudi tidak Aku ternanti-nanti,
Jika sudah benar kata hatimu itu turutlah ia hingga keakar umbi - dari kulit ke inti pati.

Khazanah

Khazanah ini walaupun sederhana- Hayatilah dengan kesungguhan Ha Ta Ya.•

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mahu menerima petunjuk."

MADAH.
Tuntutlah Ilmu, Beramallah daripada Ilmu yang berguna Allah tidak memandang rupamu, hartamu,
Allah memandang Taqwamu.Ingatlah Iman itu tidak akan datang melayang bertahta di Hati!

Sunday, June 04, 2006

Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendakNYA


Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan,yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti,yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gusti Allah.

Tan samar pamoring Suksma
Sinuksmaya winahya ing ngasepi
sinimpen ing telenging kalbu
pambukaning warana
tarlen saking liyep layaping aluyup
pindha pesating sumpena
sumusuping rasa jati

Upaya manusia untuk memahami keberadaannya diantara semua makhluk yang tergelar di jagad raya, yang notabene adalah makhluk, telah membawa manusia dalam perjalanan pengembaraan yang tak pernah berhenti. Pertanyaan tentang dari mana dan mau kemana (sangkan paraning dumadi) perjalanan semua makhluk terus menggelinding dari jaman ke jaman sejak adanya " ada ". Pertanyaan yang amat sederhana tetapi substansiil tersebut, ternyata mendapatkan jawaban yang justru merupakan pertanyaan-pertanyaan baru dan sangat beragam, bergantung dari kualitas sang penanya.

Perkembangan kecerdasan dan kesadaran manusia telah membentuk budaya pencarian yang tiada henti. Apalagi setelah muncul kesadaran religius yang mempertanyakan " apa atau siapa yang membuat ada " semakin menggiring manusia ke dalam petualangan meraba-raba di kegelapan rimba raya pengetahuan.

Di dalam kegelapan itulah benturan demi benturan akibat perbedaan pemahaman terjadi. Benturan paling purba berawal dari kisah Adam dan Hawa yang melemparkan mereka dari surga. Benturan terkadang teramat dahsyat sehingga " perlu " genangan darah dan air mata, yang dipelopori oleh Habil dan Qabil. Kesemuanya bermuara pada kata sakti yang bernama " kebenaran " yang sungguh sangat abstrak dan absurd. Tetapi bukankah hidup dan kehidupan ini abstrak dan absurd ? sehingga tak terjabarkan oleh akal-pikir yang paling canggih sekalipun.

Ketika akal-pikir tak lagi mampu menjawab pertanyaan diatas, manusia mulai menggali jawaban dari " rasa " sampai akhirnya manusia merasa seolah-olah telah menemukan apa yang dicari. Tetapi ketika pengembaraan rasa tersebut sampai pada titik simpang, dimana di satu sisi muncul kebutuhan untuk melembagakan hasil " temuan rasa " tersebut dan di sisi lain menolak pelembagaan, kembali terjadi benturan-benturan yang sesungguhnya sangat tidak perlu terjadi. Sesuatu yang tidak akan pernah diketahui, baik dengan akal-pikir dan rasa, bahkan intuisi sekalipun. Sebab " dia " adalah Sang Maha Gaib. Rumusan apapun tentang " dia " seperti apa yang telah dilakukan oleh manusia pasti akan menemui kegagalan. Karena " dia " tidak pernah merumuskan " dirinya " secara kongkrit, kecuali dalam bentuk simbol-simbol dan lambang-lambang yang metaforik.

Perjalanan panjang manusia yang menempuh jarak jutaan tahun untuk mendapatkan jawaban pasti tentang " dia " menjadi amat bervariasi. Tetapi kepastian itu sendiri tidak pernah dijumpai. Sehingga sebagian manusia menjadi putus asa, karena perjalanan pencariannya tak ubahnya seperti tragedi Syshipus, sebuah perjalanan kehilangan.

Sementara untuk sebagian manusia lainnya, semangat pencariannya justru semakin menggebu. Mereka tidak pernah patah, karena mereka tidak terpukau oleh hasil akhir. Telah muncul kesadaran baru pada mereka, bahwa yang terpenting adalah proses pencarian itu sendiri. Bertemu atau tidak bukan lagi menjadi pangkal kerisauan, karena mereka menyadari, bahwa keputusan tidak berada di tangan manusia.

Nah mereka inilah para pejalan spiritual, sang pencari sejati yang selalu haus pada pengalaman empiris di belantara pengetahuan tentang hal-hal yang abstrak, absurd dan gaib. Dan mereka adalah kita.

Syarat utama bagi para pejalan spiritual adalah kebersediaannya dan kemampuannya menghilangkan atau menyimpan untuk sementara pemahaman dogmatis yang telah dimilikinya, dan mempersiapkan diri dengan keterbukaan hati dan pikiran untuk merambah jagad ilmu pengetahuan ( kawruh ) non-ragawi. Ilmu yang gawat dan wingit, karena sifatnya sangat mempribadi dan tidak bisa diseragamkan dengan idiom-idiom yang ada, dimana idiom-idiom itu hanya bisa dipergunakan sebagai rambu penunjuk yang kebenarannya juga sangat relative.

Pengalaman spiritual adalah pengalaman yang sangat unik dan sangat individual sifatnya, sehingga kaidah-kaidah yang paling dogmatispun tak akan mampu memberikan hasil yang sama bagi individu yang berbeda. Perjalanan spiritual adalah proses panning upaya manusia untuk pencapaian tataran-kahanan ( strata, maqom ) pembebasan, yaitu kemerdekaan untuk menjadi merdeka ( freedom to be free ) dari segala bentuk keterikatan dan kemelekatan serta kepemilikan yang membelenggu, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, seprti dijalani oleh para penuntun spiritual dimasa lampau.

Jika persyaratan diatas sudah disepakati, barulah terasa ada perlunya perjalanan wisata spiritual yang baru saja kita lakukan. Jika terjadi pengalaman mistis bagi satu atau beberapa orang, harus disikapi sebagai pengalaman yang bersifat " sangat individual " yang tidak bisa diseragamkan.

Yang lama, kita pahami, Yang kini kita mengerti, Kedepan kita sikapi

KAUTAMANING LAKU
1. Wong eling ing ngelmu sarak dalil sinung kamurahaning Pangeran.
2. Wong amrih rahayuning sesaminira, sinung ayating Pangeran.
3. Angrawuhana ngelmu gaib, nanging aja tingal ngelmu sarak, iku paraboting urip kang utama.
4. Aja kurang pamariksanira lan den agung pangapunira.
5. Agawe kabecikan marang sesaminira tumitah, agawea sukaning manahe sesamaning jalma.
6. Aja duwe rumangsa bener sarta becik, rumangsa ala sarta luput, den agung, panalangsanira ing Pangeran Kang Maha Mulya, lamun sira ngrasa bener lawan becik, ginantungan bebenduning Pangeran.
7. Angenakena sarira, angayem-ayema nalarira, aja anggrangsang samubarang kang sinedya, den prayitna barang karya.
8. Elinga marang Kang Murbeng Jagad, aja pegat rina lan wengi.
9. Atapaa geniara, tegese den teguh yen krungu ujar ala.
10. Atapaa banyuara, tegese ngeli, basa ngeli iku nurut saujaring liyan, datan nyulayani.
11. Tapa ngluwat, tegese mendhem atine aja ngatonake kabecikane dhewe.
12. Aprang Sabilillah, tegese prang sabil iku, sajroning jajanira priyangga ana prang Bratayudha, prang ati ala lan ati becik

http://www.jawapalace.org

sing sapa reka arsa anglakoni

amutiha lawan amawasa

patangpuluh dina wae

lan tangi wektu subuh lan den sabar sukur ing ati

Isya ALLAH tinekan sak karsaniku,

nyawabi nakrakyatira.

saking sawab ing ilmu pangiket mami,

duk uneng Kalijaga

-jawapalace-

KEJAWEN

Mari kita mengutip satu tembang Jawa



Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan ini

Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu

Kabatinan akeh lire kabatinan banyak macamnya

Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat

Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah

Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih

Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan








Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia)dan Gusti(Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti )/pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.

Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur. beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap.Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti – hati suci itu adalah hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan mencari makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.

Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka bergotong royong dengan semboyannya “saiyeg saekoproyo “ yang berarti sekata satu tujuan.

Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.

Kejawen adalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkebang dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.

Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, dan sebagainya. Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara kematian yaitu medoakan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua tahun ,tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal ( tahlhilan ). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.

Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah.Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya sangkakala.

Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)

Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.

1. Sembah Raga

Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus menerus, seperti bait berikut:

Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking wawaton 34

Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih). Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali. Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup. Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan rukun, maka sembah itu tidak sah.

Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya, ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.

2. Sembah Cipta (Kalbu)

Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 terdahulu dan Pupuh Gambuh bait 11 berikut:

Samengkon sembah kalbu/ yen lumintu uga dadi laku/ laku agung kang kagungan narapati/ patitis teteking kawruh/ meruhi marang kang momong. 35

Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau keinginan yang tersimpan di dalam hati 36 , kalbu berarti hati 37 , maka sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati, bukan sembah gagasan atau angan-angan.

Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu).

Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat. Pertama, membersihkan hadats dan najis yang bersifat lahiriah. Kedua, membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa. Ketiga, membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina. Keempat, membersihkan hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin… 38

Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain Allah.

3. Sembah Jiwa

Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma (Allah) 39 dengan mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:

Samengko kang tinutur/ Sembah katri kang sayekti katur/ Mring Hyang Sukma suksmanen saari-ari/ Arahen dipun kecakup/ Sembahing jiwa sutengong 40

Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting. Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan suluk). Inilah akhir perjalann hidup batiniah. Cara bersucinya tidak seperti pada sembah raga dengn air wudlu atau mandi, tidak pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan alam baka/langgeng), alam Ilahi. Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan jelas pada bait berikut:

Sayekti luwih perlu/ ingaranan pepuntoning laku/ Kalakuan kang tumrap bangsaning batin/ Sucine lan awas emut/ Mring alaming lama amota.41

Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.

Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan Mangkunegara IV pada bait berikut:

"Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring kelaping alam kono."

4. Sembah Rasa

Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam, demikian menurut Mangkunegara IV.

Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga (inti ruh yang paling halus).

Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.

Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:

Semongko ingsun tutur/ gantya sembah lingkang kaping catur/ sembah rasa karasa wosing dumadi/ dadi wus tanpa tuduh/ mung kalawan kasing batos.42

Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.

Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.

Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:

Iku luwih banget gawat neki/ ing rarasantang keneng rinasa/ tan kena ginurokake/ yeku yayi dan rampung/ eneng onengira kang ening/ sungapan ing lautan/ tanpa tepinipun/ pelayaran ing kesidan/ aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.43

http://www.jawapalace.org

Thursday, June 01, 2006

SAJAK MENGENAL DIRI.

Satu haribulan Rejangnya kuda,
Kuda Pasai ke Inderagiri,
Wahai pemuda jangan menyesal,
Tuntutlah ilmu Mengenal Diri.

Mengenal Diri adalah tugas,
Supaya membezakan Qadim dan Baharu,
Hidup didunia hendaklah cergas,
Bekalan akhirat sangatlah perlu.

Tahukah Tuan,
apa dia matahari , bulan , bintang,
bagi dirimu yang nyata terbentang ,
yang berselimut dan bertelanjang.

Kenallah dirimu dengan nyata,
Zahir dan Batin berserta,
Apa dia nafsu atau jiwa,
Yang mana hati dan nyawa.

Tahukaah tuan apa dia rahsia,
zahirmu didalam dunia,
ingin menerima mati sesudah sempurna,
menuju akhirat yang utama.

Tuhan bernama Allah,
semua makhluk jadi kalah,
DIA mengetahui benar dan salah,
tahukah kamu dimana masaalah.

Muhammad bernama Rasulullah,
Adam Saupiallah,
Insan rahsia Allah,
Makhlukat hamba Allah.

Abu Zar sahabat Nabi,
mengajar Sirrullah dibenarkan Nabi,
Huzaifah sahabat Rasulullah,
dia mengajar Ilmu Sirullah,

Peristiwa Ilmu Sirullah,
diajar Nabi dimasa Madinatul Munawarah,
sekarang dikenal dengan nama Ilmu Tasaup,
maka dikenal jua Ilmu Roh.

Ilmu Sirullah satu daripada Usul,
Usul bernama .......... ,
Supaya umat Islam jangan tersassul,
kenallah diri punca Usul.

Apakah dia budi,
Jika tidak Mengenal Diri,
Mengenal Diri jadi kemudi,
belayar ke akhirat dengan segala puji.

SAJAK BAHASA.
Semua bahasa daripada allah,
Jibraail qalammullaah,
Muhammad Rasullullah,
Manusia semuanya hamba Allah.
Semua jadi satu,
Satu jadi semua,
Berbakti kepada Allah,
Beriman kepada Rasullullah.
Manusia ,
Asal mu logaam,
Bahasa mu seragam,
Jauhilah takbur dan ragam.
Asuhi bahasa mu supaya subur,
Didiklah bahasa mu supaya jangan takbur ,
Ingatlah kau akan masuk kubur.
Bahasa itu Qalam,
Bahasa itu Budi,
Bahasa itu ialah Amalan,
Bahasa itulah Kelakuan ,
Bahasa itulah yang akan menyelamatkan kau,
Bahasa itulah jua yang mencelakakan kau,
Bahasa , bahasa yang ada pada diri mu.


Kau memohon doa dengan bahasa ,
kau memberi perintah dengan bahasa,
Kau bercumbu dengan bahasa,
Kelakuan mu itulah bahasa,
Bahasa itulah ibadatmu.
Bahasa itulah budi,
Jangan bahasa mu jadi keji,
Jangan bahasa mu rugi,
Faedahnya neraka tempat mu tinggal,
Padahal syurga tujuan bahasa mu yang asal.
Pilihlah mana satu ,
Budi baik atau budi keji,
Bahasa untung atau bahasa rugi ,
Manusia tanggung nasib sendiri,
Diakhirat jangan menyesal lagi.
Budi itulah hati ,
Bahasa itulah hati ,
Rupanya boleh dilihati ,
Apabila berlaku budi dan bahasa itulah kenyataan seseorang ,
Baik atau buruk hatinya ,
Bersih atau kotor hatinya,
Setelah berbahasa dan berbudi.
Kata-kata manis yang berlawan dengan bahasa ssopan,
Kata-kata kotor yang berlawan dengan budi ,
Itulah , nilainya manusia ,
Kerana itulah dia hatinya ,
Yang dipandang Tuhan kepadanya.